Baitullah

15 February 2012 | Kategori: Rukun Haji

oleh: A Ilyas Ismail

Filosofi ibadah haji, menurut Ali Syariati, tidak lain daripada perjalanan menghampiri dan mendekati Allah swt. Perjalanan ini secara simbolik dinyatakan dengan mendatangi ”rumah-Nya”, yaitu kabah atau Baitullah di kota suci Mekah. Baitullah, yang menjadi tujuan utama perjalanan haji ini, memberi daya tarik tersendiri bagi kaum muslimin. Pasalnya, ia memiliki kemuliaan dan keutamaan yang tidak dimiliki oleh rumah ibadah manapun. Pertama, ia merupakan tempat ibadah pertama yang dibangun di muka bumi (Ali Imran, 96). Ia pertama baik dari segi waktu maupun kemuliaannya.

Kedua, ia diberi nama Baitullah, berarti ”rumah Allah”. Ini berarti namanya disandarkan langsung dengan nama Allah swt. Ketiga, ia dijadikan sebagai tempat bagi pelaksanaan bermacam ibadah dalam Islam, seperti haji, umrah, thawaf, dan juga sa’i. Keempat, ia dijadikan sebagai kiblat atau pusat orientasi bagi kaum muslimin di seluruh dunia dalam ibadah salat. Karena kemuliaan yang disebut terakhir ini, tulis Rasyid Riddha, maka tak sesaat pun berlalu, di waktu siang atau pun malam, kecuali kaum mulimin menghadapkan wajah mereka ke arahnya. (Tafsir al-Manar, 4/7).

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa kemuliaan Baitullah itu lebih terkait dengan makna dan fungsinya, bukan karena letak bangunannya dan bahan materialnya, konon, dikirim dari sorga. Namun, riwayat semacam ini, ditolak oleh Abduh dan Rasyid Ridha. Menurut mereka riwayat itu lemah dan berbau israiliyat.

Komentar Umar Ibn Khathab mengenai batu hitam (hajar aswad) yang berada di kabah itu, agaknya memperkuat pendapat Abduh dan Ridha di atas. Diceritakan ketika Umar menempelkan tangannya di batu hitam itu, ia berkata, ”Aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tak mengetahui bahwa Rasulullah menciummu, aku tak pernah akan menciummu.” Usai berkata demikian, Umar pun mendekatinya, lalu menciumnya. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Baitullah, seperti disebut dalam Alquran, dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail (Al-Baqarah, 127). Sebagai pendiri, Ibrahim dan Ismail diperintahkan oleh Allah swt agar senantiasa menjaga dan memelihara kesuciannya, baik secara fisik maupun maknawi. (Al-Baqarah, 126). Nabi Muhummad saw yang merupakan pelanjut keduanya, tentu mendapat tugas yang sama. Begitu juga kaum muslimin, yaitu setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Baitullah, seperti halnya Shafa, Marwa, dan Arafah, merupakan salah satu syiar Allah yang amat penting. Setiap muslim harus menghormati dan memuliakannya. Penghormatan terhadap syiar ini, diidentifikasi sebagai salah satu tanda dari iman dan takwa. Allah berfirman: ”Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Haj, 32).