Bolehkah Perempuan Berangkat Haji tanpa Mahram?

4 May 2012 | Kategori: Rukun Haji

Jamaah haji pria dan wanita tiba di Bandara King Abdul Azis, Jeddah. Foto: Antara.

REPUBLIKA.CO.ID – Perempuan yang berangkat haji atau umrah tanpa didampingi mahramnya masih menjadi perselisihan banyak ulama. Ada yang membolehkan dengan jaminan keamanan, namun ada juga yang bersikukuh tetap tidak membolehkannya.

Dikisahkan dalam kitab Fatawa Al-Mar’ah karangan Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman Al-Baz, bahwa ada seorang perempuan yang terkenal kesalehannya pada saat usia dewasa ingin menunaikan ibadah haji.

Permasalahannya, ia tidak mempunyai muhrim. Namun di negeri yang sama, ada seorang laki-laki yang juga terkenal saleh akan pergi menunaikan ibadah haji. Laki-laki tersebut berangkat haji bersama seorang saudara perempuannya.

Pertanyaannya, apakah boleh perempuan tersebut melaksanakan haji bersama laki-laki yang berangkat haji beserta saudara perempuannya tersebut? Apakah ia wajib berangkat haji dengan menumpang kepada laki-laki tersebut ataukah kewajiban hajinya sudah gugur karena tidak ada muhrim. Walaupun sebenarnya perempuan tersebut dalam hal kesanggupan harta sudah terpenuhi.

Menurut Syekh Bin Baz, perempuan yang tidak mempunyai muhrim tidak diwajibkan beribadah haji. Hal ini disebabkan muhrim bagi perempuan merupakan bagian penting dari kemampuan melaksanakan ibadah haji.

Berkemampuan merupakan syarat dikenakannya kewajiban haji. Allah SWT berfirman, “Dan mengerjakan ibadah haji itu kewajiban manusia kepada Allah bagi orang-orang yang mempunyai kemampuan mengadakan perjalanan (ke Baitullah).” (QS. Ali Imran: 97).

Namun sayangnya, bagi perempuan tidak dibolehkannya pergi haji atau bepergian jauh untuk kepentingan lain tanpa disertai suami atau muhrim. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Bukhari, bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak diperbolehkan bagi seorang perempuan bepergian, baik siang maupun malam kecuali dengan muhrim.”

Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mendengar Nabi SAW bersabda, “Seorang laki-laki tidak boleh bersama seorang perempuan, kecuali adanya seorang muhrim bagi perempuan itu. Dan seorang perempuan jangan bepergian kecuali dengan muhrim.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, istri saya sudah berangkat menunaikan haji sementara saya sudah terdaftar untuk pergi berperang.” Rasulullah menjawab, “Pergilah dan tunaikan ibadah haji bersama istrimu!”

Syekh Bin Baz menerangkan bahwa pelarangan wanita yang berangkat tanpa mahram tersbut adalah adalah pendapat Hasan, An-Nakha’i, Ahmad, Ishaq, Ibnu Mundzir, dan para ulama Ashab Al-Ra’yu. Ini merupakan pendapat yang tepat karena sesuai dengan keumuman maksud hadits Nabi SAW bahwa seorang perempuan dilarang bepergian tanpa disertai suami atau muhrim.

Namun Malik, Syafi’i, dan Al-Auza’i mempunyai pendapat lain. Mereka masih bertoleransi untuk membolehkannya dengan jaminan keamanan bagi perempuan tersebut. Akan tetapi, ulama yang membolehkan ini dikatakan Syekh Al-Baz tidak mempunyai dalil yang mendukungnya.

Tentang hal ini Ibnu Al-Mundzir berkata, “Mereka mengabaikan sesuatu yang sudah jelas, maksud yang terang dari hadits, dan mereka tidak mempunyai dalil yang kuat.” Wallahua’lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Fatawa Al-Mar’ah oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman Al-Baz.