Haji Wada’

8 November 2011 | Kategori: Rukun Haji

Kaum Muslimin memadati Masjidil Haram di Makkah saat pelaksanaan ibadah haji. Foto: Antara/Prasetyo Utomo

REPUBLIKA.CO.ID, Diriwayatkan dari Aisyah RA, dia berkata, “Rasulullah SAW pergi menunaikan ibadah haji selama lima malam pada penutup bulan Dzulqa’dah.”

Ketika beliau berniat untuk mengadakan perjalanan, ada sekitar 100.000 lebih sahabat dan kaum Muslimin bersiap-siap untuk menunaikan ibadah haji bersama beliau. Mereka adalah kaum Muslimin Madinah, serta para utusan dari berbagai wilayah dan beberapa kabilah yang telah masuk Islam.

Saat itu, Rasulullah didampingi semua istrinya. Beliau bersama rombongan hajinya berangkat dari Madinah pada hari Sabtu, antara waktu Dzuhur dan Ashar. Rombongan tiba di Makkah pada hari Ahad pagi, tanggal 4 Dzulhijjah 10 H. Perjalanan haji ini disebut dengan Haji Islam, Haji Al-Balagh (penyampaian), dan Haji Wada’ (perpisahan).

Ibnu Ishaq menyampaikan bahwa Rasulullah lalu menunaikan ibadah hajinya. Beliau menunjukkan cara melaksanakan ibadah haji serta sunah-sunahnya pada semua umatnya. Beliau menjelaskan segala yang perlu dijelaskan dalam khutbahnya.

Setelah memuji dan mengagungkan Allah SWT, beliau bersabda, “Wahai umatku, dengarkanlah apa yang aku katakan ini, karena mungkin selepas tahun ini, aku tidak akan berjumpa lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya.

Wahai saudaraku, darah dan harta benda kalian itu suci (haram diganggu satu sama lain) hingga kalian bertemu Allah kelak, sebagaimana kesucian hari dan bulan ini. Kalian pasti akan menghadap Allah, lalu Dia meminta pertanggungjawaban amal perbuatan kalian. Ingatlah, aku telah menyampaikan kepada kalian risalah ini.

Barangsiapa yang diserahi amanah, sampaikanlah amanah itu kepada yang berhak menerimanya. Segala perbuatan riba sudah dilarang. Namun, kalian berhak menerima kembalian modal kalian. Jangan menzalimi pihak lain, dan jangan mau dizalimi. Allah telah memutuskan bahwa tidak ada lagi riba. Sesungguhnya riba yang dilakukan Abbas bin Abdul Muthalib sudah tidak berlaku.

Semua tuntutan darah pada masa jahiliyah dihapuskan. Tuntutan darah pertama yang kuhapuskan adalah darah Ibnu Rabi’ah bin Al-Harits bin Abdul Muthalib. Dia mencari perempuan yang menyusuinya dari Bani Laits, tetapi perempuan itu dibunuh oleh Hudzail. Amma Ba’du.

Wahai saudaraku sekalian, sesungguhnya setan telah merasa putus asa untuk disembah di tanah kalian ini selamanya. Akan tetapi ia akan sangat bangga jika dipatuhi dalam hal paling kecil sekalipun. Untuk itu, waspadalah dan jagalah agama kalian baik-baik!

Saudaraku sekalian, menunda-nunda berlakunya larangan pada bulan suci berarti memperbesar kekufuran. Hal ini membuat orang kafir semakin sesat. Mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain agar dapat melanggar ketentuan pada bulan yang sudah diharamkan Allah. Kemudian mereka pun menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah.

Zaman terus berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Jumlah bilangan bulan menurut hitungan Allah adalah 12 bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan haram; Syawwal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Rajab, antara bulan Jumadits Tsani dan Sya’ban.

Wahai umatku sekalian, kalian mempunyai hak atas istri-istri kalian, begitu pula sebaliknya, istri-istri kalian mempunyai hak atas kalian. Hak kalian adalah melarang mereka menerima laki-laki lain di tempat tidur kalian dan melarang mereka berbuat nista. Jika mereka melakukannya, Allah mengizinkan kalian untuk meninggalkan mereka di tempat tidur dan memukul mereka dengan pukulan yang tidak mencederai. Jika mereka berhenti, mereka berhak mendapatkan nafkah dan pakaian mereka secara patut.

Berbuat baiklah kepada istri kalian. Mereka itu adalah tawanan di tangan kalian yang tidak memiliki apa pun untuk diri mereka. Kalian telah menerima mereka sebagai amanah Allah. Kalian juga menjadikan kehormatan mereka halal bagi kalian dengan kalimat Allah. Perhatikanlah kata-kataku ini, wahai saudaraku sekalian. Dan ingatlah, bahwa aku telah menyampaikannya!

Aku telah mewariskan Kitabullah dan Sunah Rasulullah ke tangan kalian. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya.

Wahai umatku, dengarkan dan pahamilah perkataanku ini! Pelajarilah bahwa setiap Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain; semua Muslimin itu bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu dari saudaranya selain apa yang diberikannya dengan lapang dada. Janganlah kalian menzalimi diri sendiri. Ya Allah, apakah aku telah menyampaikan ajaran-Mu?”

“Ya Rabb, sudah beliau sampaikan,” jawab para sahabat.

“Ya Rabb, saksikanlah!” lanjut Rasulullah.

Ini adalah satu-satunya ibadah haji Rasulullah, yang kemudian disebut dengan Haji Wada’. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan kata-kata perpisahan kepada umatnya. Setelah itu, beliau tidak pernah lagi menunaikan ibadah haji hingga kembali ke haribaan-Nya.

Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Atlas Haji & Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth