Hikmah Haji Rasulullah dalam Melontar Jumrah (1)

9 May 2012 | Kategori: Rukun Haji

Jamaah haji saat melempar jumrah. Foto: Antara.

REPUBLIKA.CO.ID – Berbagai makna yang tersimpan dari pelaksanaan haji Rasulullah sangat banyak. Demikian juga hikmah yang terselubung dari perjalanan haji beliau menuju tempat melontar jumrah.

Dalam hal ini banyak sekali makna yang tersimpan. Pertama, dengan kerikil-kerikil kecil itu sesungguhnya engkau mengumumkan kemenangan berperang melawan setan. Sekaligus menegaskan bahwa engkau hanyalah hamba Allah semata.

Hingga jika saja engkau tidak mengetahui makna yang terselubung ini, sesungguhnya pada kondisi semacam itu engkau menegaskan adanya peperangan yang terus berlangsung antara yang hak dan yang batil.

Sesungguhnya orang-orang yang melempar jumrah menegaskan kebenaran mereka. Mereka menyatakan keikhlasan dalam menghamba kepada Allah. Adapun penghamba dunia, pujian, sanjungan, dan penghargaan dari orang lain sesungguhnya tidak memahami arti melempar jumrah. Mereka tidak mengetahui makna berwukuf di Arafah. Tidak pula mengerti makna thawaf di sekeliling Ka’bah.

Kedua, dalam prosesi melempar jumrah sesunggunnya juga menyimpan arti kemenangan manusia dalam menundukkan hawa nafsu. Sekaligus mengakhiri penghambaan kepada selain Allah.

Rasulullah berpindah lagi untuk melanjutkan tahapan-tahapan prosesi ibadah haji. Kali ini beliau sampai ke Masjtdil Haram. Beliau sampai ke Baitullah untuk melaksanakan thawaf. Beliau hendak memeluk Hajar Aswad. Karena dengan begitu akan mengingatkan kembali segala kenangan yang pernah ada saat bertemu dengan Hajar Aswad.

Beliau tidak kuasa membendung air mata yang mengguyur laksana hujan. Hingga Umar bergegas mendekati beliau. “Apa ini, ya Rasulullah?” tanya Umar keheranan. Beliau menjawab, “Di sini tertuang banyak sekali air mata, wahai Umar!” (HR Ibnu Majah 2/982).

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Al-Misk wa Al-Anbar oleh Syekh Aidh Al-Qarni