Hikmah Haji Rasulullah dalam Melontar Jumrah (2-habis)

9 May 2012 | Kategori: Rukun Haji

Jamaah haji saat melempar jumrah. Foto: Antara.

REPUBLIKA.CO.ID – Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, “Siapa yang berangkat menunaikan haji sedangkan ia tidak mengucap kata-kata kotor dan tidak pula berbuat fasik, maka ia akan kembali seperti hari saat ia dilahirkan ibunya.” (HR Bukhari 2/141).

Sungguh, orang yang sanggup berbuat demikian adalah sama dengan keadaannya saat dilahirkan. Ia terbebas dari dosa, maksiat, dan cela.

Pada mulanya, orang-orang Quraisy berwukuf di Muzdalifah, sementara orang-orang banyak yang berwukuf di Arafah.

Kemudian Allah menurunkan ayat, “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199).

Bergabunglah bersama orang banyak. Lakukanlah wukuf bersama mereka. Janganlah memisahkan diri dan jangan pula bercerai berai. Jadilah satu umat dan satu golongan.

Sesungguhnya hari Arafah adalah hari menghancurkan kesesatan. Hari Arafah adalah saat memperlihatkan kekuatan Allah bahwa tiada tuhan yang patut disembah selain Allah.

Akan tetapi, haji bukanlah momen untuk melakukan demo dan pamer kekuatan. Bukan pula kesempatan untuk berbuat gaduh. Sesungguhnya amalan ibadah haji ditunaikan dengan khusyuk, hikmat, dan tenang.

Berhaji adalah menghadap kepada yang Maha Kuasa. Mengaitkan hati kepada Allah melalui ibadah ini kita menegaskan kesatuan, kebersamaan dan keterkaitan kita.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Al-Misk wa Al-Anbar oleh Syekh Aidh Al-Qarni