Hukum Meninggalkan Thawaf Wada

11 May 2012 | Kategori: Rukun Haji

Umat Muslim melaksanakan thawaf di Baitullah, Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Foto: Dok Republika.

REPUBLIKA.CO.ID – Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian pergi sebelum akhir masanya di Baitullah.” (HR. Muslim).

Rasulullah juga bersabda, “Jamaah haji diperintahkan agar akhir masanya di Baitullah. Namun, hal itu diringankan bagi wanita haid.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dahulu, Rasulullah SAW pun memberi salam perpisahan ke Baitullah usai melaksanakan seluruh rangkaian manasik haji dan hendak meninggalkan Makkah. Beliau bersabda, “Ambillah manasik haji kalian dariku!”

Semua hadits ini menunjukkan hukum wajib thawaf Wada’ bagi jamaah haji, kecuali jamaah haji wanita yang haid dan nifas.

Tetapi, menurut Mazhab Maliki, thawaf Wada’ hukumnya sunah. Jamaah haji yang meninggalkan thawaf Wada’, maka dia harus membayar dam, karena telah menyalahi sunah dan meninggalkan kewajiban manasik haji.

Inilah pendapat ulama yang kuat. Ibnu Abbas pun membenarkannya dan berkata, “Barangsiapa sengaja meninggalkan manasik haji atau lupa, hendaklah dia menyembelih hewan.” Sedangkan wanita haid dan nifas, boleh meninggalkan thawaf Wada’, berdasarkan hadits Ibnu Abbas dan lainnya.

Jadi menurut mayoritas ulama, thawaf Wada’ ketika akan meninggalkan Makkah hukumnya wajib. Namun bila tidak dilakukan, hajinya tetap sah, dengan syarat, dia harus membayar dam, yaitu menyembelih seekor kambing.

Bila tidak menemukan kambing, bisa berpuasa 10 hari; 3 hari saat haji dan 7 hari ketika kembali ke Tanah Air. Puasa 3 hari saat haji tidak bisa terlaksana, kecuali pada hari Tasyriq atau pada bulan-bulan haji yang berakhir dengan usainya bulan Dzulhijjah.

Menurut Madzhab Syafi’i, wanita yang sedang haid atau nifas boleh tidak melaksanakan thawaf Wada’. Berdasarkan Mazhab Maliki, hukum thawaf Wada’ adalah sunah.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Atlas Haji dan Umrah oleh Sami bin Abdullah Al-Maghlouth