Sunah-Sunah Haji

19 October 2011 | Kategori: Rukun Haji

Para jamaah haji berdoa di Multazam, Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Foto: Antara/Prasetyo Utomo

Oleh Syekh Abdul Azhim bin Badawi Al-Khalafi

Haji adalah salah satu ibadah dari sekian banyak ibadah, mempunyai rukun, hal-hal yang wajib dan hal-hal yang sunnah.

A. Sunah-Sunah Ihram:

1. Mandi ketika ihram.
Berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit bahwasannya ia melihat Nabi SAW mengganti pakaiannya untuk ihram lalu mandi. (HR Tirmidzi)

2. Memakai minyak wangi di badan sebelum ihram.
Berdasarkan hadits Aisyah, ia berkata, “Aku pernah memberi wewangian Rasulullah SAW untuk ihramnya sebelum berihram dan untuk tahallulnya sebelum melakukan thawaf di Ka’bah.” (Muttafaq ‘alaih, At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah).

3. Berihram dengan kain ihram (baik yang atas maupun yang bawah) yang berwarna putih.
Berdasarkan hadits Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah SAW berangkat dari Madinah setelah beliau menyisir rambut dan memakai minyak, lalu beliau dan para sahabat memakai rida’ dan izar (kain ihram yang atas dan yang bawah).

Adapun disunnahkannya yang berwarna putih berdasarkan hadits Ibnu Abbas, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Pakailah pakaianmu yang putih, sesungguhnya pakaian yang putih adalah pakaianmu yang terbaik dan kafankanlah orang-orang yang wafat di antara kalian dengannya.” (Muttafaq ‘alaih).

4. Shalat di lembah Aqiq bagi orang yang melewatinya.
Berdasarkan hadits Umar, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda di lembah Aqiq, “Tadi malam, telah datang kepadaku utusan Rabb-ku dan berkata, ‘Shalatlah di lembah yang diberkahi ini dan katakan (niatkan) umrah dalam haji.”

5. Mengangkat suara ketika membaca talbiyah.
Berdasarkan hadits As-Saib bin Khalladi, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepadaku Jibril dan memerintahkan kepadaku agar aku memerintahkan para sahabatku supaya mereka mengeraskan suara mereka ketika membaca talbiyah.” (HR Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah).

6.Bertahmid, bertasbih dan bertakbir sebelum mulai ihram.
Berdasarkan hadits Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW shalat Dzuhur empat rakaat di Madinah sedangkan kami bersama beliau, dan beliau shalat Ashar di Dzul Hulaifah dua rakaat. Beliau menginap di sana sampai pagi, lalu menaiki kendaraan hingga sampai di Baidha. Kemudian beliau memuji Allah bertasbih dan bertakbir, lalu beliau berihram untuk haji dan umrah.” (HR Bukhari, Abu Dawud).

7. Berihram menghadap kiblat.
Berdasarkan hadits Nafi’, ia berkata, “Dahulu ketika Ibnu Umar selesai melaksanakan shalat Subuh di Dzul Hulaifah, ia memerintahkan agar rombongan mulai berjalan. Maka rombongan pun berjalan, lalu ia naik ke kendaraan. Ketika rombongan telah sama rata, ia berdiri menghadap Kiblat dan bertalbiyah. Ia mengira dengan pasti bahwa Rasulullah SAW mengerjakan hal ini.” (HR Bukhari).

B. Sunah-Sunah Ketika Masuk Kota Makkah
1. Menginap di Dzu Thuwa, mandi untuk memasuki kota Makkah dan masuk kota Makkah pada siang hari.
Dari Nafi’, ia berkata, “Dahulu ketika Ibnu Umar telah dekat dengan kota Makkah, ia menghentikan talbiyah, kemudian menginap di Dzu Thuwa, shalat Subuh di sana dan mandi. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengerjakan hal ini.” (Muttafaq ‘alaih, Abu Dawud).

2. Memasuki kota Makkah dari Ats-Tsaniyah Al-Ulya (jalan atas).
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, ia berkata, “Dulu Rasulullah SAW memasuki kota Makkah dari Ats-Tsaniyah Al-Ulya (jalan atas) dan keluar dari Ats-Tsaniyah As-Sufla (jalan bawah).” (Muttafaq ‘alaih, An-Nasa’i, Ibnu Majah).

3. Mendahulukan kaki kanan ketika masuk ke dalam Masjidil Haram.

4. Mengangkat tangan ketika melihat Ka’bah.

C. Sunah-Sunah Thawaf
1. Al-Idhthiba’
Yaitu memasukkan tengah-tengah kain ihram di bawah ketiak kanan dan menyelempangkan ujungnya di pundak kiri sehingga pundak kanan terbuka, berdasarkan hadits Ya’la bin Umayyah bahwasannya Rasulullah SAW thawaf dengan idhthiba’.  (HR Ibnu Majah, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

2. Mengusap Hajar Aswad.
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW ketika tiba di Makkah mengusap Hajar Aswad di awal thawaf, beliau thawaf sambil berlari-lari kecil di tiga putaran pertama dari tujuh putaran thawaf.” (Muttafaq ‘alaih, An-Nasa’i).

3. Mencium Hajar Aswad.
Berdasarkan hadits Zaid bin Aslam dari ayahnya, ia berkata, “Aku melihat Umar bin Khathab RA mencium Hajar Aswad dan berkata, “Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (Muttafaq ‘alaih, Abu Dawud, Ibnu Majah, At-Tirmidzi, An-Nasa’i).

4. Bertakbir setiap melewati Hajar Aswad.
Berdasarkan hadits Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi SAW thawaf mengelilingi Ka’bah di atas untanya, setiap beliau melewati Hajar Aswad beliau memberi isyarat dengan sesuatu yang ada pada beliau kemudian bertakbir.” (HR Bukhari).

5. Berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama thawaf yang pertama kali (thawaf qudum).
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, “Bahwasanya Rasulullah SAW ketika thawaf mengitari Ka’bah, thawaf yang pertama kali, beliau berlari-lari kecil tiga putaran dan berjalan empat putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir kembali di Hajar Aswad.” (Muttafaq ‘alaih, Ibnu Majah, Abu Dawud, An-Nasa’i).

6. Mengusap rukun Yamani.
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, ia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW mengusap Ka’bah kecuali dua rukun Yamani (rukun Yamani dan Hajar Aswad).” (Muttafaq ‘alaih, Abu Dawud, An-Nasa’i).

7. Berdo’a di antara dua rukun (rukun Yamani dan Hajar Aswad) dengan do’a sebagai berikut: رَبَّنَآ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (HR Bukhari, Ibnu Majah).

8. Shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim setelah thawaf.
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, ia berkata, “Setelah tiba, Rasulullah SAW thawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali, kemudian beliau shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim dan sa’i antara Shafa dan Marwah.”

9. Sebelum shalat di belakang Maqam Ibrahim membaca: وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّىٰ.

“Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim itu tempat shalat.”

Kemudian membaca dalam shalat dua rakaat itu surat Al-Ikhlash dan surat Al-Kaafirun.

10. Berdiri di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah dengan cara menempelkan dada, wajah dan lengannya pada Ka’bah.

11. Minum air zamzam dan mencuci kepala dengannya.
Berdasarkan hadits Jabir bahwasannya Rasulullah SAW mengerjakan hal tersebut.

D. Sunah-Sunah Sa’i:
1. Mengusap Hajar Aswad (seperti yang telah lalu).
2. Membaca: إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullaah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i di antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maham Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 158).

Kemudian membaca: نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ.

“Kami mulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.”

3. Berdoa di Shafa.
Ketika berada di Shafa, menghadap Kiblat dan membaca: اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ.

“Tidak ada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata. Yang melaksanakan janji-Nya, membela hamba-Nya (Muhammad) dan mengalahkan golongan musuh sendirian.”

4. Berlari-lari kecil dengan sungguh-sungguh antara dua tanda hijau.

5. Ketika berada di Marwah mengerjakan seperti apa yang dilakukan di Shafa, baik menghadap Kiblat, bertakbir maupun berdoa.

E. Sunnah-Sunnah Ketika Keluar dari Mina
1. Ihram untuk haji pada hari Tarwiyah dari tempat tinggal masing-masing.

2. Shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’ di Mina pada hari Tarwiyah, serta menginap di sana hingga shalat Subuh dan matahari telah terbit.

3. Pada hari Arafah, menjamak shalat Dzuhur dan Ashar di Namirah.

4. Tidak meninggalkan Arafah sebelum matahari tenggelam.

Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Disarikan dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, karya Syekh Abdul Azhim bin Badawai Al-Khalafi. Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA-Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.