Tata Cara dan Adab Melaksanakan Sai (1)

18 June 2012 | Kategori: Rukun Haji

Umat Muslim saat melaksanakan ibadah sa'i antara bukit Shafa dan Marwah. Foto: Antara.

REPUBLIKA.CO.ID – Sa’i adalah berjalan di antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Sa’i dilakukan setelah selesai semua tahapan ibadah tawaf.

Apabila telah selesai melaksanakan tawaf, tahapan haji berikutnya yang harus dilaksanakan adalah keluar melalui pintu Bab As-Shafa untuk menuju bukit Shafa. Hendaklah menaiki bukit kecil tersebut beberapa anak tangganya, kira-kira setinggi seorang laki-laki dewasa.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ketika melakukan haji, beliau menaiki bukit Shafa sehingga dapat melihat Ka‘bah. Meskipun demikian, sa’i cukup dimulai dari kaki bukit. Menaikinya lebih dari itu, adalah sesuatu yang mustahab (disukai atau dianjurkan).

Sebenarnya, sebagian dari anak tangga bagian bawah ternyata baru dibangun dikemudian hari. Karena itu, janganlah mengabaikannya sehingga dapat mengurangi kesempumaan sa’i. Dari Bukit Shafa itulah sa‘i dimulai, antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali putaran.

Ketika telah menaiki bukit Shafa, hendaknya menghadap ke arah Ka’bah, lalu mengucapkan, “Allahu Akbar. Allahu Akbar. Alhamdulillahi ‘ala ma hadana Alhamdulillahi bi mahamidihi kulliha. La ilaha illallah wahdahu la syarika lah. Lahul-mulku wa lahulhamdu bi yadihil khairu wa hua ala kulli syai’in qadir. La ilaha illallah wahdah, shadaqa wa’dah. wanashara ‘abdah wa a’azza jundah. Wa hazamal ahzaba wahdah. La ilaha illallahu mukhlishina lahuddin wa lau karihal kafirun.”

“La ilahi illallahu mukhlishina lahud din. Alhamdulillahi rabbil’alamin. Fa subhanallahi hina tumsuna wa hina tushbihun. Wa lahulhamdu fis samawati wal ardhi wa ‘asyiyyan wa hina tuzhhirun. Yukhrijul hayya minal-mayyiti. Wa yukhrijul mayyita minal hayyi. Yuhyil ardha ba‘da mautiha, wa kadzalika tukhrajun. Wa min ayatihi an khalaqakum min turabin, tsumma idza antum basyarun tantasyirun.”

“Allahumma inni a’asluka imanan da’iman. wa yaqinan shadiqan, wa ‘ilman nafi‘an, wa qalban khasyi‘an, wa lisanan dzakiran. Wa as’alukal ‘afwa wal afiata wal mu‘afah ad-da’imah fid dunya wal akhirah. Wa shallallahu ‘ala Muhammadin wa alihi wa sallam.”

Artinya, “Allahu Akbar, Allahu Akbar. Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kami petunjuk. Segala puji bagi Allah, sesrni dengan segala sifat-terpuji-Nya; atas segala nikmat yang dikaruniakan-Nya. Tiada tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya; dan kepunyaan-Nya-lah semua kerajaan, dan bagi-Nya-lah segala puji- pujian. Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan. Di tangan- Nya-lah terhimpun segala kebaikan, dan Dia-lah yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Tiada tuhan selain Allah, Yang telah memenuhi janji-Nya, Yang telah memenangkan hamba-Nya, Yang memberi kekuatan tentara-Nya dan Yang  Ia sendiri  memukul-mundur pasukan Ahzab.”

“Tiada tuhan selain Allah; hanya kepada-Nya kami tujukan ibadah kami, walaupun orang-orang kafir tak menyukai. Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam. Maka bertasbihlah kamu sekalian kepada Allah di waktu petang dan waktu pagi;dan bagi-Nya-lah segala puji, di langit dan di bumi, dan di waktu kamu berada di malam dan siang hari. Dia mengeluarkan yang hidup dan yang mati dan mengeluarkan yang tnati dari yang hidup, dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan kembali. Dan di antara tanda-tanda (kebesaran-Nya adalah bahwa Dia menciptakan kamu dari tanah,kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berpencaran.”

“Ya Allah, sungguh aku memohon dari-Mu, keimanan yang langgeng, keyakinan yang tulus, ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk dan lidah yang selalu bersyukur. Dan aku memohon dari-Mu, pengampunan, kesehatan dan kesejahteraan yang terus-menerus, di dunia dan di akhirat.”

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Rahasia Haji dan Umrah oleh Abu Hamid Al-Ghazali