<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurnalhaji.com &#187; Pengalaman Haji</title>
	<atom:link href="http://www.jurnalhaji.com/tag/pengalaman-haji/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jurnalhaji.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 02:27:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Ki H Anom Suroto, Serba Jalan Kaki</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/27/ki-h-anom-suroto-serba-jalan-kaki/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/27/ki-h-anom-suroto-serba-jalan-kaki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 01:15:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=2122</guid>
		<description><![CDATA[Beragam cara dilakukan orang ketika menunaikan ibadah haji. Apa yang dilakukan setiap jamaah berbeda antara satu dan lainnya. Bahkan, boleh dibilang, sesuatu yang ganjil juga dilakukan saat berada di Tanah Suci, Makkah Al Mukarramah. Seperti yang dilakukan Ki Anom Suroto (59). Dalang wayang kulit kondang asal Solo, Jawa Tengah, ini boleh dibilang langka. Entah mengapa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_2123" class="wp-caption alignleft" style="width: 334px"><img src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/11/AnomSuroto.jpg" alt="Ki H Anom Suroto" title="AnomSuroto" width="324" height="243" class="size-full wp-image-2123" /><p class="wp-caption-text">Ki H Anom Suroto</p></div>Beragam cara dilakukan orang ketika menunaikan ibadah haji. Apa yang  dilakukan setiap jamaah berbeda antara satu dan lainnya. Bahkan, boleh dibilang, sesuatu yang ganjil juga dilakukan saat berada di Tanah Suci, Makkah Al Mukarramah.</p>
<p>Seperti yang dilakukan Ki Anom Suroto (59). Dalang wayang kulit kondang asal Solo, Jawa Tengah, ini boleh dibilang langka. Entah mengapa, ia bersama 20 orang jamaah membuat kesepakatan bersama: selama menempuh perjalanan haji di Tanah Suci, mereka akan melakukannya dengan jalan kaki. &#8221;&#8221;Ke mana pun perjalanan selama menunaikan ibadah rukun wajib haji, kita bersama anggota 20 orang sepakat jalan kaki,&#8221;&#8221; tutur Ki Anom Suroto.</p>
<p>Kesepakatan bersama ini diambil ketika mereka belum berangkat ke Tanah suci. Anggota yang semua laki-laki ini tergabung dalam satu kelompok terbang (kloter) dan satu kelompok dalam pemondokan. Sekadar pengetahuan saja, di antara jutaan jamaah selama di Tanah Suci jarang yang jalan kaki setiap kali menempuh perjalanan.</p>
<p>Kebanyakan di antara mereka naik alat transportasi, seperti bus. Kalau tidak sabar, mereka naik taksi meski ongkos lebih mahal dan risiko negatif kemungkinan terjadi. Orang tidak mau bersusah payah ke mana pun pergi, mesti naik fasilitas alat transportasi yang disediakan di sana.</p>
<p>Beda dengan apa yang dilakukan Ki Anom Suroto dkk. Begitu tiba di Jeddah dan menunaikan shalat Arbain, mereka terus melanjutkan perjalanan ke Makkah. Prosesi dari Makkah ke Arafah dimulai dengan berjalan kaki. Sebanyak 20 orang tersebut tak peduli dengan jutaan jamaah lain yang antre menunggu bus antar-jemput. Mereka tak memanfaatkan fasilitas transportasi yang tersedia walau dalam keadaan kosong.</p>
<p>&#8221;&#8221;Kita melakukan perjalanan pada malam hari. Hawanya sejuk dan segar. Nyamanlah. Bangun tidur, terus mandi, dan melakukan persiapan perjalanan panjang. Enak rasanya menikmati embun malam hari untuk berjalan kaki,&#8221;&#8221; katanya. Mereka tiba di Arafah sebelum setelah melakukan perjalanan dari Makkah.</p>
<p>Perjalanan wukuf dari Makkah ke Arafah, menurut Ki Anom Suroto, menguras tenaga. Tapi, karena tiba di lokasi sebelum Subuh, semuanya tak terasa. Modalnya, hati tetap senang dan semua dilakukan dengan rasa ikhlas sepenuh hati.</p>
<p>Perjalanan dari Makkah ke Arafah dilakukan bukan asal-asalan. Rombongan sebanyak 20 orang ini sebelumnya sudah melakukan tes percobaan. Ternyata, perjalanan malam lebih enak, cepat, dan nyaman. Berangkat malam dan tiba di Arafah sebelum subuh. Berarti, wukuf pada hari H bisa dilakukan dengan cara serupa. Akhirnya, itu membuat ketagihan setiap ibadah hingga kemudian dilakukan dengan jalan kaki.<br />
Berbeda dengan jamaah yang menempuh perjalanan dengan memanfaatkan fasilitas transportasi bus, mereka datang di Arafah sekitar pukul 10 pagi. Keterlambatan ini lantaran terjebak kondisi jalan yang macet. Ini karena saking banyaknya kendaraan umum pengangkut jamaah haji.</p>
<p>Tidak heran kalau cuaca mulai panas ketika mereka tiba. Tidak aneh kalau ada banyak kendaraan pick up yang mengangkut es balok.<br />
Demikian juga ketika menempuh perjalanan dari Arafah ke Mina, mereka menempuhnya dengan jalan kaki. Perjalanan mengambil kerikil&#8211;untuk lempar jumrah&#8211;ke Muzdalifah juga jalan kaki. Kemudian, perjalanan dari Mina ke Makkah juga kembali dilakukan dengan jalan kaki.</p>
<p>Menurut pengakuan Ki Anom Suroto, perjalanan haji tahun 1980 dilakukan serbalancar. Terasa lebih cepat jalan kaki ketimbang naik kendaraan bus&#8211;yang terus terjebak macet. Kondisi persiapan fisik dan mental yang prima mendukung kelancaran ibadah haji. Ternyata, proses perjalanan kaki kala itu penuh makna bahwa manusia wajib melakukan penghambaan kepada Allah. Ketika wukuf, jutaan umat manusia dari seluruh penjuru dunia, beda suku dan warna kulit, menyatu dan melakukan penghambaan kepada Sang Khalik. Di sinilah, tempat manunggalnya umat manusia mengagungkan asma Allah.</p>
<p>Ki Anom Suroto menunaikan ibadah haji atas dorongan ibunya, Ny Sawitri, dan neneknya, Kertotiyoso. Ia merasakan dampak positif usai menjalankan ibadah rukun Islam kelima. Sikap kepasrahan, kesabaran, rasa gelisah, bingung, dan serba tergesa-gesa secara pelan terkikis sirna. Kehidupan kian mantap.</p>
<p>&#8221;&#8221;Dulu, kalau lagi sepi tanggapan (job), saya gelisah. Tapi, sekarang berbeda. Sikap semeleh (pasrah) terjadi. Lagi tidak mempunyai uang pun, juga tidak kemrungsung (tergesa-gesa).&#8221; Dan, alhamdulillah, usai menunaikan ibadah haji, dunia keseniannya kian laris manis. Setiap bulan tidak pernah sepi dari job. Yang jelas, setiap ada adegan goro-goro (lawakan) dimanfaatkan untuk media dakwah.</p>
<p>Menurutnya, kini menjalankan profesi sebagai seniman dalang wayang kulit kian mantap. Ia mendakwahkan ajaran Islam, budi pekerti pergaulan, dan tata krama lewat media wayang kulit. Sebenarnya, seni tersebut tergantung pada dalangnya, bisa dimanfaatkan sebagai media pendidikan, penyebar informasi, dan dakwah. ed: maghfiroh/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/11/27/ki-h-anom-suroto-serba-jalan-kaki/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/27/ki-h-anom-suroto-serba-jalan-kaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gumilar Rusliwa Somantri Ujian Kepasrahan dan Kemantapan Hati</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/16/gumilar-rusliwa-somantri-ujian-kepasrahan-dan-kemantapan-hati/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/16/gumilar-rusliwa-somantri-ujian-kepasrahan-dan-kemantapan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 05:05:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1916</guid>
		<description><![CDATA[Oleh  EH Ismail Lazarde Kata orang, mereka yang bisa melaksanakan ibadah haji adalah orang-orang yang memang &#8221;dipanggil&#8221; Allah SWT. Betapapun, kemampuan fisik dan biaya untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut tidaklah tercapai bila Allah SWT belum memperkenankannya. Ada saja kendala dan rintangan untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Inilah yang dialami Rektor Universitas Indonesia, Gumilar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-1917" title="gumilar-rusliwa-somantri" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/11/gumilar-rusliwa-somantri.jpg" alt="gumilar-rusliwa-somantri" width="325" height="250" />Ole</strong>h  EH Ismail Lazarde</p>
<p>Kata orang, mereka yang bisa melaksanakan ibadah haji adalah orang-orang yang memang &#8221;dipanggil&#8221; Allah SWT. Betapapun, kemampuan fisik dan biaya untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut tidaklah tercapai bila Allah SWT belum memperkenankannya. Ada saja kendala dan rintangan untuk bisa berangkat ke Tanah Suci.</p>
<p>Inilah yang dialami Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Rusliwa Somantri. Dua kali mendaftar sebagai calon jamaah haji Indonesia, dua kali pula mantan Dekan Fisip UI ini gagal berangkat haji.</p>
<p>Pada musim haji tahun 2002 silam, Gumilar mendaftarkan diri sebagai calon haji. Dia mendapatkan nomor. Namun, Gumilar terpaksa menunda keberangkatannya karena bertepatan dengan hari wisuda mahasiswa Fisip UI. Saat itu, baru tahun pertama dirinya menakhodai Fisip UI.</p>
<p>&#8220;Selaku dekan baru saat itu, mau tidak mau saya harus mengalah dan ikut prosesi wisuda mahasiswa Fisip,&#8221;&#8221; imbuh Gumilar kepada  <em>Republika</em> . Lima tahun berselang, niatan Gumilar untuk berhaji tak lekang dimakan waktu. Dia dan sang istri, Nenden Wasita Kusumah, mengawali tekad berhaji dengan melakukan umrah pada pertengahan 2007.</p>
<p>&#8221;&#8221;Ibarat memancing, saya dan istri berdoa supaya bisa berhaji tahun itu juga,&#8221;&#8221; ujarnya. Ketika itu, Gumilar menceritakan, sang istri memanjatkan doa agar bisa berhaji dan menginap di salah satu hotel yang dekat dengan Masjidil Haram. &#8221;&#8221;Biar mudah pulang-pergi ke Ka&#8221;bah,&#8221;&#8221; katanya.</p>
<p>Sepulang umrah, Gumilar dan istri mendaftarkan diri melalui jalur haji khusus (ONH Plus). Semua biaya yang dipersyaratkan pun dibayar tunai. Pada Agustus 2007, Gumilar terpilih menjadi rektor UI. Statusnya pun cukup membanggakan, rektor termuda sepanjang sejarah UI.</p>
<p>Namun apa hendak dikata, Gumilar dan istri terancam tak bisa berangkat. Kuota haji khusus untuk Depok, tempat Gumilar mendaftarkan diri, terbatas untuk 110 orang. Hal yang mengecewakan lagi, Gumilar dan istri terdaftar di nomor urut 111 dan 112.</p>
<p>Obsesi yang tinggi membuat Gumilar mencari cara alternatif. Dengan label rektor yang melekat pada dirinya, Gumilar mencoba meminta bantuan kepada teman-temannya. Mulai dari aparatur di Pemkot Depok sampai pejabat di Departemen Agama. &#8221;&#8221;Tapi, karena waktunya  <em>mepet</em> , ya tetap tidak bisa.&#8221;&#8221;</p>
<p>Bulan pun berganti September. Jamaah haji Indonesia mulai diberangkatkan ke Tanah Suci. Gumilar pasrah. Sang istri diberi pengertian agar bersabar dan terus memantapkan hati. Insya Allah, katanya, kalau memang Sang Mahakuasa berkenan memanggil, pasti ada jalan untuk berhaji.</p>
<p>&#8221;&#8221;Kalaupun waktunya belum sekarang,&#8221;&#8221; ucapnya kepada istri saat itu. Memendam kesedihan menyaksikan jamaah haji yang diberangkatkan ke Tanah Suci, Gumilar menjalankan rutinitas sebagai seorang rektor. Kala itu, ada rencana pembangunan Masjid At-Tauhid Arif Rahman Hakim di kampus UI Salemba. Siapa menyangka, Gumilar justru mendapat &#8221;jalan panggilan&#8221; melalui rencana pembangunan masjid tersebut.</p>
<p>Bertempat di Gedung Pusat Administrasi Universitas (PAU) UI, kampus Depok, ada penyerahan bantuan dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk pembangunan masjid UI. Bantuan sebesar Rp 5 miliar diserahkan langsung Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi, Ibrahim bin Sulaiman An Nughaimsyie.</p>
<p>Sewaktu memberikan bantuan, Gumilar ditanya Syekh Ibrahim apakah dia sudah naik haji atau belum. &#8220;Begitu saya jawab belum, Syekh Ibrahim menawarkan saya untuk berhaji tahun itu juga dengan undangan khusus Raja Abdullah bin Abdul Aziz,&#8221; ungkap pria kelahiran Tasikmalaya, 11 Maret 1963, gembira. Tawaran Syekh Ibrahim disambut Gumilar dengan sukacita. Terlebih undangan dari Pemerintah Arab Saudi juga diberikan kepada sang istri tercinta.</p>
<p>Gumilar merasa, undangan berhaji dan rencana pembangunan masjid UI adalah sarana yang diberikan Allah SWT untuk menyampaikan panggilan-Nya. &#8221;&#8221;Saya seakan tidak percaya. Selain dua kali gagal berangkat, undangan berhaji tahun itu waktunya sudah  <em>injury time</em> . Kurang dari sebulan sebelum Hari Raya Idul Adha,&#8221;&#8221; papar Gumilar.</p>
<p>Dia menambahkan, jika saja tidak ada undangan dari Kerajaan Arab Saudi dan pembangunan masjid UI, mungkin dirinya masih harus menunggu dua atau tiga tahun lagi untuk berhaji. Hal yang lebih membuatnya takjub, Gumilar dan istri menginap di hotel yang dekat sekali dengan Masjidil Haram. &#8221;&#8221;Seperti doa istri saya waktu umrah.&#8221;&#8221;</p>
<p>Karenanya, ketika di depan Ka&#8221;bah, Gumilar tak henti-henti memanjatkan syukur dan berdoa kepada Allah SWT. Dia berdoa agar bangsa Indonesia senantiasa selamat dan sejahtera. Tak lupa pula, ia meminta untuk kemajuan pendidikan dan UI, serta kebahagiaan keluarganya. &#8221;&#8221;Saya pun semakin merasa, sebagai manusia kita sejatinya sangat kecil dan tidak memiliki arti kecuali bisa memberi manfaat bagi orang lain,&#8221;&#8221; tandas Gumilar.  ed: m as&#8221;adi/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/11/16/gumilar-rusliwa-somantri-ujian-kepasrahan-dan-kemantapan-hati/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/16/gumilar-rusliwa-somantri-ujian-kepasrahan-dan-kemantapan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ismi Azis Belajar Bersedekah dari Tanah Suci</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/13/ismi-azis-belajar-bersedekah-dari-tanah-suci/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/13/ismi-azis-belajar-bersedekah-dari-tanah-suci/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 14:33:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1887</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Lilis Sri Handayani Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Begitulah Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar suka menyedekahkan rezeki yang dianugerahkan Allah SWT. Bersedekah tidak hanya mendatangkan balasan berlipat ganda bagi pemberi, namun juga memberikan kebahagiaan bagi si penerima. Selain itu, bersedekah juga akan menjaga ukhuwah antara si kaya dan si miskin. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1888" title="ismi-azis" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/11/ismi-azis.jpg" alt="ismi-azis" width="325" height="247" />Oleh <strong>Lilis Sri Handayani<br />
</strong><br />
Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Begitulah Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar suka menyedekahkan rezeki yang dianugerahkan Allah SWT. Bersedekah tidak hanya mendatangkan balasan berlipat ganda bagi pemberi, namun juga memberikan kebahagiaan bagi si penerima. Selain itu, bersedekah juga akan menjaga ukhuwah antara si kaya dan si miskin.</p>
<p>Tampaknya, hikmah itulah yang dipetik artis Ismi Azis ketika menunaikan ibadah haji pada 1992 silam. Ketika berada di Tanah Suci, ke mana pun ia pergi, baik ke pasar maupun sekitar masjid, selalu ada saja orang Arab yang memberinya makanan. Padahal, dirinya sama sekali tak mengenal orang-orang tersebut.</p>
<p>&#8221;&#8221;<em>Wah</em>, pokoknya selama menunaikan ibadah haji, saya tidak pernah kekurangan makanan, selalu saja ada orang yang memberi,&#8221;&#8221; ujar wanita pemilik nama asli Setia Ismiati Azis itu.</p>
<p>Bagi Ismi, pemberian makanan tadi tidak saja menyelipkan rasa bahagia dalam dirinya selama berada di Tanah Suci, namun juga membawa hikmah.<br />
Pemberian-pemberian tersebut membuat Ismi berpikir&#8211;barangkali kalau dirinya berbuat hal yang sama, tentu itu akan membuat orang lain berbahagia pula.</p>
<p>&#8221;&#8221;Ketika menerima pemberian itu, saya benar-benar merasa bahagia. Seandainya saya berbuat seperti itu, tentu orang lain yang menerima akan bahagia pula,&#8221;&#8221; kata Ismi.</p>
<p>Setelah melakukan perenungan atas peristiwa tadi, dalam hatinya muncul tekad, sesampai di Tanah Air ia akan memperbanyak sedekah. Dengan bersedekah, katanya, tentu banyak mendatangkan kebahagiaan bagi orang lain.</p>
<p>Kata Ismi, bersedekah tak hanya mendatangkan rasa bahagia. Berdasarkan pengalamannya ketika berada di Tanah Suci, pemberian makanan dari orang Arab telah mengajarkan nilai-nilai ukhuwah padanya. Betapa tidak, dirinya telah dianggap sebagai saudara oleh mereka yang semula adalah orang-orang asing.</p>
<p>&#8221;&#8221;Di Arab, saya tidak kenal dengan siapa pun. Dengan pemberian makanan itu, orang-orang di sana berarti sayang dan menganggap saya sebagai saudara,&#8221;&#8221; tandas wanita yang lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 27 November 1965, itu.</p>
<p>Selain mendapat banyak pemberian makanan, Ismi pun mengaku menerima banyak kemudahan selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Dia menyebutkan, salah satu kemudahan yang diterimanya itu tatkala berusaha mencium Hajar Aswad. Dengan tubuhnya yang mungil, untuk bisa mencium Hajar Aswad, pasti akan sulit dilakukan.</p>
<p>Apalagi, untuk bisa mencium Hajar Aswad, harus dilakukan melalui &#8221;persaingan&#8221; dengan jamaah haji dari negara-negara lain yang memiliki postur tubuh tinggi dan besar. Namun, tak ada yang mampu menandingi kebesaran Allah jika Allah telah berkehendak menolong hamba-Nya. Penyanyi yang melejit di era 1990-an itu ternyata malah bisa mencium Hajar Aswad hingga berkali-kali.</p>
<p>&#8221;&#8221;Pengalaman itu sungguh luar biasa. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan, menurut kacamata kita, bisa saya lakukan berkali-kali.&#8221;&#8221;</p>
<p>Ismi menuturkan, setiap selesai melakukan putaran thawaf, selalu ada keajaiban yang dialaminya. Ketika tepat berada di depan Hajar Aswad, tiba-tiba di sekitar batu mulia itu tampak kosong dari jutaan manusia. Karena itu, dirinya pun bisa dengan mudah mencium Hajar Aswad.</p>
<p>Pada kesempatan thawaf berikutnya, keajaiban lain pun terjadi dengan adanya orang yang tiba-tiba menarik tangan Ismi sehingga mendekat ke arah Hajar Aswad. Kesempatan itu tentu tak disia-siakannya untuk bisa kembali mencium batu tersebut.</p>
<p>&#8221;&#8221;Ternyata, kalau ada niat, pasti ada jalan,&#8221;&#8221; tandas putri direktur TVRI di era tahun 1980-an, Azis Husein.</p>
<p>Ismi melanjutkan, kemudahan lain yang dialaminya selama menunaikan ibadah haji terjadi saat lontar jumrah. Dengan ukuran fisiknya yang mungil, ternyata ritual itu dapat mudah dilakukannya. Bahkan, dengan sekali lempar, langsung mengenai sasaran.</p>
<p>Ismi pun mengaku, pelaksanaan ibadah haji telah membawa perubahan besar dalam dirinya. Setelah kembali ke Tanah Air, dirinya lebih bisa menjadi orang yang sabar dalam menghadapi apa pun. Selain itu, kualitas ibadah sehari-harinya pun lebih meningkat.  ed : m as&#8221;adi/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/11/13/ismi-azis-belajar-bersedekah-dari-tanah-suci/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/13/ismi-azis-belajar-bersedekah-dari-tanah-suci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikang Fawzi Berhaji di Usia Muda</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/11/ikang-fawzi-berhaji-di-usia-muda/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/11/ikang-fawzi-berhaji-di-usia-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 04:15:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1803</guid>
		<description><![CDATA[oleh Lilis Sri Handayani Salah satu pesan Rasulullah SAW, agar umatnya menggunakan masa mudanya sebelum masa tua, bagi Ikang Fawzi benar-benar membawa hikmah bagi dirinya. Bahkan, pesan tersebut mampu mengubah kehidupannya sebagai seorang rocker. Di usianya yang baru 33 tahun, pria kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1959 tersebut, pada saat popularitasnya tengah naik  &#8221;terpaksa&#8221; menunaikan ibadah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1804" title="ikangfauzi" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/11/ikangfauzi-300x245.jpg" alt="ikangfauzi" width="300" height="245" /><em>oleh Lilis Sri Handayani</em></p>
<p>Salah satu pesan Rasulullah SAW, agar umatnya menggunakan masa mudanya sebelum masa tua, bagi Ikang Fawzi benar-benar membawa hikmah bagi dirinya. Bahkan, pesan tersebut mampu mengubah kehidupannya sebagai seorang rocker. Di usianya yang baru 33 tahun, pria kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1959 tersebut, pada saat popularitasnya tengah naik  &#8221;terpaksa&#8221; menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.</p>
<p>&#8221;&#8221;Ketika itu, belum ada niatan sedikit pun untuk berhaji, tapi saya terpaksa berangkat ke Tanah Suci,&#8221;&#8221; kata Ikang.</p>
<p>Ketika itu, cerita musisi yang memiliki nama lengkap Ahmad Zulfikar Fawzi tersebut, dirinya tengah menikmati masa keemasan sebagai seorang rocker. Dalam usianya yang baru menginjak 33 tahun, tidak hanya popularitas yang diperolehnya, tetapi juga berbagai penghargaan serta materi yang berlimpah. Sementara itu, ketaatan menjalankan ibadah masih jauh dari kehidupannya.</p>
<p>Beruntunglah Ikang memiliki seorang istri seperti Marissa Haque. Perempuan yang telah memberikan dua orang putri itu terus membujuknya agar mau menunaikan ibadah haji. Marissa yang pernah menjalankan umrah sendirian ke Tanah Suci tersebut terus mendesaknya, sampai akhirnya meluluhkan hati sang rocker.</p>
<p>&#8221;&#8221;Meski dengan setengah hati, sebagai suami saya merasa berkewajiban mendampingi istri menunaikan haji. Jadi, niat awal saya berangkat haji karena terpaksa menemani istri. Sedangkan saya sendiri secara mental masih belum siap,&#8221;&#8221; ujar pria yang pernah menjabat sebagai wakil ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) bidang Pemukiman pada era 1990-an tersebut.</p>
<p>Keputusan yang diambil Ikang, tampaknya memicu munculnya banyak godaan.</p>
<p>Ketika rencana berhaji itu diketahui teman-temannya, berbagai komentar miring pun mampir ke telinganya. Komentar-komentar itu membuat dirinya semakin ragu mengikuti ajakan istrinya.</p>
<p>&#8221;&#8221;Ngapain naik haji saat umur masih muda? Ntar aja kalau sudah tua, sekalian tobat,&#8221;&#8221; kata Ikang menirukan ucapan teman-temannya.</p>
<p>Namun demikian, meski banyak suara miring diarahkan padanya, jika Allah sudah berkehendak, apa pun pastilah terjadi. Meski dengan hati penuh keraguan dan persiapan yang minim, Ikang ternyata tetap ditakdirkan untuk menjadi tamu Allah.</p>
<p>Di luar dugaan, Ikang yang tidak tekun mengikuti manasik haji, bahkan tak hafal kalimat talbiyah, didaulat rekan-rekan sesama rombongannya untuk memimpin membaca kalimat tersebut. &#8221;&#8221;Permintaan para jamaah itu ternyata merupakan jalan dari Allah agar saya lebih mantap dalam menunaikan haji.&#8221;&#8221;</p>
<p>Dengan bantuan sang istri, Ikang pun akhirnya bisa melafalkan kalimat itu dengan suara lantang khas seorang rocker. Dia pun mengaku merasakan getaran di dalam dadanya, tatkala kalimat talbiyah itu berulang kali meluncur dari mulutnya.</p>
<p>&#8221;&#8221;Saya sadar, semua harta, penghargaan, dan popularitas yang saya banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah,&#8221;&#8221; tutur Ikang.<br />
Ikang pun langsung bersujud sambil menangis ketika pertama menginjakkan kaki ke Tanah Suci. Di tempat itu, dirinya seolah menyaksikan gambaran perjalanan hidup yang selama ini dijalaninya kurang baik.</p>
<p>&#8221;&#8221;Saya menangis sejadinya-jadinya dan memasrahkan semuanya pada Allah. Bahkan, kalau Allah mencabut nyawa saya saat itu juga, saya ikhlas,&#8221;&#8221; kata Ikang.</p>
<p>Ikang kemudian bertekad menggunakan semua waktunya selama di Tanah Suci untuk memperbanyak ibadah. Bahkan, dia mengaku jarang tidur. Semua amalan yang wajib dan sunah, dikerjakannya dengan tekun. Saat itulah, dirinya mengaku sangat beruntung bisa menunaikan ibadah haji ketika usia masih muda.</p>
<p>&#8221;&#8221;Menunaikan ibadah haji di usia muda banyak sekali manfaatnya, fisik kita masih kuat, ini sangat menunjang untuk memperbanyak ibadah. Apalagi, selama menjalankan ibadah, adu fisik dengan jamaah dari negara lain yang berpostur tubuh besar tidak bisa dihindari,&#8221;&#8221; kata Ikang menambahkan.</p>
<p>Hikmah berhaji di usia muda tak hanya dirasakan Ikang selama berada di Tanah Suci. Setelah kembali ke Tanah Air, perubahan untuk menjadi Muslim yang lebih taat pun dijalaninya. Meski secara bertahap, berbagai kebiasaan negatif yang acapkali dilakukannya, seperti mengonsumsi minuman keras, bisa ditinggalkan.</p>
<p>Tak hanya itu, Ikang juga mengaku lebih bisa bersabar dalam menghadapi apa pun. Padahal, pelantun lagu Preman itu biasa menghadapi kekerasan yang dialaminya dengan kekerasan pula. Namun, berbagai peristiwa yang dialaminya selama berhaji, mampu mempertebal kesabaran dalam dirinya.</p>
<p>&#8221;&#8221;Saya merasa menjadi &#8221;orang lain&#8221; setelah pulang haji. Saya jadi berpikir, kalau dulu saya tidak berhaji saat masih muda, mungkin sekarang saya jadi orang yang lupa diri,&#8221;&#8221; ungkap Ikang. ed :m as&#8221;adi/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/11/11/ikang-fawzi-berhaji-di-usia-muda/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/11/ikang-fawzi-berhaji-di-usia-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Azyumardi Azra: Terbayang Perjuangan Nabi</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/30/azyumardi-azra-terbayang-perjuangan-nabi/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/30/azyumardi-azra-terbayang-perjuangan-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 02:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1583</guid>
		<description><![CDATA[Nabi Muhammad SAW telah berhasil menyebarkan Islam hingga ke seluruh dunia. Untuk mencapainya, tentu itu tidak mudah. Pengorbanan dan perjuangan tak kenal putus, cobaan silih berganti, hingga akhirnya tertancap dan berkibarlah &#8221;bendera&#8221; Islam di seluruh belahan dunia. Demi menegakkan Islam di muka bumi, Nabi SAW harus bersusah payah berperang melawan kaum kafir. Meski hinaan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1584" title="azumardy" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/10/azumardy-300x241.jpg" alt="azumardy" width="300" height="241" />Nabi Muhammad SAW telah berhasil menyebarkan Islam hingga ke seluruh dunia. Untuk mencapainya, tentu itu tidak mudah. Pengorbanan dan perjuangan tak kenal putus, cobaan silih berganti, hingga akhirnya tertancap dan berkibarlah &#8221;bendera&#8221; Islam di seluruh belahan dunia.</p>
<p>Demi menegakkan Islam di muka bumi, Nabi SAW harus bersusah payah berperang melawan kaum kafir. Meski hinaan dan ejekan, bahkan siksaan acap kali diterima, hal itu tidak menyurutkan perjuangan Rasulullah untuk menegakkan Islam. Berkat izin Allah, akhirnya Rasulullah berhasil mengibarkan bendera Islam ke seluruh dunia.</p>
<p>&#8221;&#8221;Perjuangan Rasulullah menegakkan Islam itulah yang terbayang ketika saya pergi ke Tanah Suci,&#8221;&#8221; kata cendekiawan Islam, Azyumardi Azra.</p>
<p>Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini mengaku, ketika pertama kali pergi ke Tanah Suci tahun 1991 dan saat di Masjidil Haram melihat Ka&#8221;bah, yang terbayang di depan matanya adalah perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan Islam.</p>
<p>&#8220;Saya seperti melihat sebuah tayangan video, bagaimana Nabi SAW susah payah menyebarkan Islam di negara padang pasir dan bersama para pejuang berhasil menyebarkan Islam ke seluruh dunia,&#8221; ungkap Azyumardi.</p>
<p>Azyumardi menangis ketika melihat Ka&#8221;bah. Ia menangis ketika di depan matanya berkelebat bayangan-bayangan perjuangan Nabi SAW. Selain itu, ia juga menangis karena banyaknya monumen historis terkait sejarah Nabi SAW yang hilang. &#8220;Saya menangis tersedu karena melihat bayangan-bayangan itu. Saya juga menangis karena tidak ada lagi monumen peninggalan Nabi SAW yang bisa dipegang. Padahal, kalau ada, saya bisa merasa lebih dekat,&#8221; katanya.</p>
<p>Di depan Ka&#8221;bah dan di Masjidil Haram, jiwa dan hati Azyumardi seperti teraduk. Ada kekaguman dan keterkesimaan serta juga rasa sedih dan rasa prihatin atas hilangnya banyak bukti sejarah perjuangan Nabi SAW.</p>
<p>Bagi Azyumardi, pergi ke Tanah Suci tidak saja membutuhkan kesanggupan fisik, namun juga mental. &#8220;Ketika kita sudah berhaji, terjadi transformasi rohani. Semula hanya mendengarkan cerita-cerita sejarah perjuangan Rasulullah. Ketika di sana, saya merasa hadir bersama Nabi,&#8221; katanya.</p>
<p>Tak hanya itu, sepulangnya Azyumardi dari baitullah, ia merasa ada peningkatan keimanan dan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Lima tahun setelah itu, Allah pun memberikan Azyumardi kenikmatan yang berlipat. Azyumardi mendapat kesempatan kembali berhaji pada tahun 1996 dalam rangka tugas. Pada 2005, ia melaksanakan ibadah haji untuk ketiga kalinya karena mendapatkan undangan dari Pemerintah Arab Saudi untuk menjadi pembicara tentang pengaruh haji Asia Tenggara.</p>
<p>Menyimak pengalaman dirinya sendiri terkait ibadah haji, ada satu penyesalan yang mendalam. Azyumardi sangat menyesalkan mengapa di zaman modern ini kita yang tinggal menikmati hasil perjuangan Nabi Muhammad tidak sungguh-sungguh menegakkan Islam. &#8220;Ada keharuan yang mendalam ketika berada di Tanah Suci,&#8221; katanya.</p>
<p>Pria kelahiran Lubuk Alung, Sumatra Barat, 4 Maret 1955, ini mengaku sangat menyayangkan jejak perjalanan Nabi Muhammad SAW sudah banyak yang hilang. Masjidil Haram pun sudah mengalami perubahan karena kini sudah dikelilingi bangunan-bangunan tinggi. Rumah-rumah lama peninggalan zaman Rasulullah SAW yang asli hilang. &#8220;Hanya tersisa Ka&#8221;bah,&#8221; ujarnya. she/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/10/30/azyumardi-azra-terbayang-perjuangan-nabi/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/30/azyumardi-azra-terbayang-perjuangan-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Giring &#8221;Nidji&#8221; Merinding Ketika Berhadapan dengan Ka&#8221;bah</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/giring-nidji-merinding-ketika-berhadapan-dengan-kabah/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/giring-nidji-merinding-ketika-berhadapan-dengan-kabah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 03:45:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1366</guid>
		<description><![CDATA[Giring, vokalis grup band Nidji mengaku merinding sekujur tubuhnya, dari ubun-ubun hingga telapak kaki, ketika pertama kali melihat Ka&#8221;bah di Tanah Suci Makkah. Bahkan, pria kelahiran Jakarta, 14 Juli 1983, ini mengaku sempat menitikkan air mata. &#8221;&#8221;Saat itu saya merasa begitu kecil dan merasa tidak ada apa-apanya di mata Allah,&#8221;&#8221; akunya. Lelaki yang menunaikan ibadah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1367" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1367" title="giring-niji" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/10/giring-niji-300x208.jpg" alt="Giring (Nidji)" width="300" height="208" /><p class="wp-caption-text">Giring (Nidji)</p></div>
<p>Giring, vokalis grup band Nidji mengaku merinding sekujur tubuhnya, dari ubun-ubun hingga telapak kaki, ketika pertama kali melihat Ka&#8221;bah di Tanah Suci Makkah. Bahkan, pria kelahiran Jakarta, 14 Juli 1983, ini mengaku sempat menitikkan air mata. &#8221;&#8221;Saat itu saya merasa begitu kecil dan merasa tidak ada apa-apanya di mata Allah,&#8221;&#8221; akunya.</p>
<p>Lelaki yang menunaikan ibadah haji pada 2008 lalu itu menyatakan sangat beruntung bisa melihat dari dekat keindahan Ka&#8221;bah. Nidji mengaku sempat khawatir tidak bisa berhadap-hadapan langsung dengan monumen suci umat Islam tersebut.</p>
<p>&#8221;&#8221;Saya sempat takut dan kawatir tidak akan dapat melihat keindahan bangunan suci itu dari dekat, padahal Ka&#8221;bah merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.&#8221;&#8221;</p>
<p>Ada satu pengalaman yang tak pernah bisa terlupakan sepanjang hayat haji muda ini. Ketika berada di Makkah, dia merasa mendapatkan energi yang amat besar. Pasalnya setiap jam bahkan setiap menit, ia menyaksikan ada saja jamaah haji yang salat. &#8221;&#8221;Jadi, merasa dekat banget sama Allah SWT,&#8221;&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ketika menyaksikan jutaan jamaah haji menyemut berjalan menuju satu arah, Giring mengaku hatinya begitu tersentuh. Jutaan manusia tersebut, kata Giring, melakukan semuanya semata-semata hanya untuk Allah,&#8221;&#8221; Meski berada di antara jutaan manusia, alhamdulillah, semuanya berjalan lancar,&#8221;&#8221; ujarnya.</p>
<p>Walaupun tidak sempat mencium Hajar Aswad, pria bernama lengkap Giring Ganesha, tidak begitu menyesal. Sebab, menurutnya, mencium Hajar Aswad bukan hal yang wajib. Ketika berada di Tanah Suci, Giring mengaku lebih fokus kepada ibadahnya, &#8221;&#8221;Tapi, kalau pegang Ka&#8221;bah pernah,&#8221;&#8221; katanya.</p>
<p>Pengalaman lain yang juga tak pernah terlupakan, ketika dia tergencet di antara jutaan manusia yang tengah melontar jumrah.&#8221;&#8221;Saat itu saya harus melindungi ibu dari desakan jutaan manusia, saya tergencet, tapi berkat pertolongan Allah, alhamdulillah kami selamat,&#8221;&#8221; tambah Giring. Menurut Giring, masih banyak pengalaman menyentuh lainnya selama ia pergi ke Tanah Suci. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi dirinya.</p>
<p>&#8221;&#8221;Pengalaman-pengalaman di Tanah Suci itulah, yang mengajarkan pada saya supaya bisa menjadi orang yang sabar dan selalu pasrah kepada Allah.&#8221;&#8221;Bukan hanya itu, berkat pengalaman-pengalaman berharga itu pula membuat Giring menjadi orang yang selalu berpikiran positif. &#8221;&#8221;Ketika sampai di Indonesia saya menyadari hidup itu harus penuh dengan rasa syukur, dan setiap melakukan kegiatan semata-mata karena Allah,&#8221;&#8221; katanya. she/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/giring-nidji-merinding-ketika-berhadapan-dengan-kabah/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/giring-nidji-merinding-ketika-berhadapan-dengan-kabah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyaris tak Berangkat Haji</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/20/nyaris-tak-berangkat-haji/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/20/nyaris-tak-berangkat-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 04:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1308</guid>
		<description><![CDATA[Naik haji merupakan impian setiap Muslim, demikian pula dengan saya. Setelah melalui penantian panjang, akhirnya saya bisa menunaikan ibadah haji. Bahkan, keberangkatan saya ke Tanah Suci ketika itu atas undangan Raja Arab Saudi, melalui kantor di mana saya bekerja. Setelah melalui proses seleksi, biasanya ada ratusan orang dari Indonesia diberangkatkan ke Tanah Suci dengan fasilitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><img class="alignleft size-medium wp-image-287" title="h-110" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/05/h-110-300x211.jpg" alt="h-110" width="300" height="211" />Naik haji merupakan impian setiap Muslim, demikian pula dengan saya. Setelah melalui penantian panjang, akhirnya saya bisa menunaikan ibadah haji. Bahkan, keberangkatan saya ke Tanah Suci ketika itu atas undangan Raja Arab Saudi, melalui kantor di mana saya bekerja.</p>
<p>Setelah melalui proses seleksi, biasanya ada ratusan orang dari Indonesia diberangkatkan ke Tanah Suci dengan fasilitas yang sangat memadai karena statusnya sebagai jamaah haji tamu kerajaan. Nama saya termasuk salah satu yang diusulkan.</p>
<p>Mendapat informasi seperti itu, tentu saya sangat gembira. Apalagi dalam setiap kesempatan, sudah sejak lama saya berdoa agar bisa berangkat haji melalui program undangan raja ini. Doa itu sepertinya dikabulkan Allah. Sekitar dua pekan sebelum Hari Raya Idul Adha, saya dipanggil pihak Atase Agama Kedutaan Arab Saudi di Jakarta untuk membicarakan rencana keberangkatan saya ke Tanah Suci.</p>
<p>Namun, dalam pembicaraan dengan seorang staf atase yang menemui saya, dijelaskan, pada 2008, Indonesia tidak mendapat jatah calon haji yang berstatus undangan raja. Menurut staf tersebut, pada tahun itu, sebagian besar jatah haji undangan raja untuk negara-negara Asia, termasuk Indonesia, dialihkan ke negara-negara berpenduduk Muslim di Eropa Timur.</p>
<p>Mendengar penjelasan itu, saya jadi lemas, apa yang selama ini saya impikan sepertinya buyar. Namun, harapan itu kembali muncul ketika staf atase tersebut menyebutkan, pihak kedutaan tetap akan memberangkatkan jamaah haji asal Indonesia. Tapi, statusnya bukan sebagai undangan raja. Menurutnya, pihak kedutaan telah menghimpun dana dari beberapa dermawan di Arab Saudi agar tetap bisa memberangkatkan calon haji asal Indonesia.</p>
<p>Dia tidak menjelaskan, berapa dana yang diperoleh dari sumbangan para dermawan tersebut. Namun, menurutnya, dana itu hanya cukup untuk membiayai pembelian tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Jeddah. Sedangkan biaya untuk makan, penginapan, dan lain-lain harus disediakan sendiri. Untuk itu, saya harus menyetorkan uang 1.500 dolar AS.</p>
<p>Mendapat penjelasan seperti itu, saya hanya bisa terdiam. Bukan karena kecewa harus membayar. Bisa berangkat haji dengan hanya mengeluarkan uang 2.000 dolar, menurut saya, sudah luar biasa murah. Haji reguler saja, harus membayar sekitar Rp 35 juta. Tapi yang menjadi persoalan saya, adalah karena saat itu saya benar-benar tidak punya uang.</p>
<p>Gaji dari kantor habis untuk kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak-anak saya, dan juga membayar utang. &#8221;&#8221;Saat ini, saya sungguh-sungguh tidak punya dana sebesar itu, Pak,&#8221;&#8221; kata saya pada staf tersebut.Namun, staf kedutaan tadi tetap memberikan kesempatan kepada saya. Bahkan, dia menurunkan jumlah uang yang harus dibayarkan menjadi 1.500 dolar AS. &#8221;&#8221;Ya sudah, 1.500 dolar saja <em>deh</em>, Mas,&#8221;&#8221; katanya.</p>
<p>Mendapat kemudahan seperti ini, saya kembali terdiam hingga beberapa saat kemudian saya menjawab, &#8221;&#8221;Pak, saya tidak sanggup,&#8221;&#8221; kata saya lagi. Saya berpikir, mungkin saya bisa mengusahakan uang sebesar itu dengan cara berutang. Tanpa berpikir panjang, saat itu juga saya putuskan mundur saja dan urung berangkat.</p>
<p>&#8221;&#8221;Demi Allah, saya tidak berangkat ke Tanah Suci tahun ini, tidak apa-apa. Masalah haji, bagi saya adalah masalah panggilan Allah. Mudah-mudahan, kelak ada jalan agar saya bisa berangkat melalui cara lain,&#8221;&#8221; Kata saya pada staf atase tersebut.</p>
<p>Tapi, rupanya pada saat itu, Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi memerhatikan saya. Atase tersebut, langsung memanggil stafnya yang tadi mewawancarai saya. Beberapa saat kemudian, staf itu kembali menemui saya dan menyatakan ongkos yang harus saya bayar diturunkan lagi menjadi tinggal 750 dolar AS.</p>
<p>Masya Allah, saya betul-betul terharu mendapat perhatian seperti itu. Tapi sungguh, saat itu saya benar-benar tidak punya uang. &#8221;&#8221;Sudahlah, Pak. Tidak apa-apa saya tidak berangkat. Kalau bapak terus menurunkan ongkos yang harus saya bayar, nanti kasihan dengan jamaah lain yang akan diberangkatkan kedutaan. Berarti mereka yang harus membayar seluruh biaya perjalanan haji saya,&#8221;&#8221; jawab saya.</p>
<p>Mendapat jawaban saya, staf tersebut kembali menghadap atase agama. Beberapa saat kemudian, dia kembali menemui saya dan mengatakan, &#8221;&#8221;Mas, biaya sebesar itu sudah rendah sekali. Jamaah yang lain, tetap harus membayar 2.000 dolar. Begini saja, Mas saya beri kesempatan untuk berpikir dua jam. Mungkin Mas bisa mengusahakan uang itu. Coba Mas telepon ke kantor, mungkin bersedia menutupi biaya itu,&#8221;&#8221; sarannya.</p>
<p>Saya pun kemudian keluar dari kantor kedutaan. Di bawah pohon di luar gedung atase, saya menelpon pemimpin saya dan menjelaskan, supaya bisa berangkat haji saya harus membayar uang 750 dolar AS. &#8221;&#8221;<em>Wah</em>, gimana ya, Wid. Sekarang kantor juga sedang tidak ada uang,&#8221;&#8221; kata pimpinan saya.</p>
<p>&#8221;&#8221;Ya sudah Mas. <em>Ngga</em> apa-apa. Mungkin belum rezeki saya bisa berangkat haji tahun ini,&#8221;&#8221; jawab saya.Kemudian saya menelpon istri saya, dan mendiskusikan ihwal kebutuhan tersebut. Hasil diskusi panjang kami memutuskan, kalau harus bayar sebesar itu, lebih baik saya tidak berangkat.</p>
<p>Tanpa menunggu lama, saya bergegas kembali menemui atase lagi untuk menyampaikan keputusan bahwa saya tidak jadi berangkat. Tapi alhamdulillah, saat itu pemimpin redaksi saya menelpon, &#8221;&#8221;Wid, sekarang kamu masuk kantor atase. Bilang, biayanya dibayar kantor,&#8221;&#8221; katanya.</p>
<p>Alhamdulillah, saya tak kuasa menahan air mata mendapat telepon dari bos saya ini. Cukup lama, saya menangis di bawah pohon, sebelum saya akhirnya masuk kantor dan menjelaskan saya siap membayar ongkos berangkat haji tersebut. Saya juga telepon ke istri, &#8221;&#8221;Bu, akhirnya saya bisa berangkat. Kantor sudah bisa membayarkan kekurangannya,&#8221;&#8221; kata saya. &#8221;&#8221;Ya syukur Alhamdulillah. Allah ternyata memberi jalan, Pak,&#8221;&#8221; jawab istri saya.</p>
<p>Eko Widiyatno<br />
Purwokerto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/10/20/nyaris-tak-berangkat-haji/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/20/nyaris-tak-berangkat-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Haji Seorang Jurnalis</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/07/31/pengalaman-haji-seorang-jurnalis/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/07/31/pengalaman-haji-seorang-jurnalis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 03:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=861</guid>
		<description><![CDATA[Tiap orang yang menunaikan ibadah haji menyimpan pengalaman masing-masing, baik yang terkait fisik terlebih-lebih pengalaman rohani. Umumnya, berbagai kisah pengalaman haji itu hanya menjadi cerita yang dikisahkan kepada keluarga, saudara, handai tolan dan teman-teman, sepulang beriba dah haji. Lain ceritanya kalau yang berangkat haji adalah wartawan. Umumnya mereka akan menuliskan pengalaman tersebut dalam bentuk laporan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-862" title="kabah" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/07/kabah-300x225.jpg" alt="kabah" width="300" height="225" />Tiap orang yang menunaikan ibadah haji menyimpan pengalaman masing-masing, baik yang terkait fisik terlebih-lebih pengalaman rohani. Umumnya, berbagai kisah pengalaman haji itu hanya menjadi cerita yang dikisahkan kepada keluarga, saudara, handai tolan dan teman-teman, sepulang beriba dah haji.</p>
<p>Lain ceritanya kalau yang berangkat haji adalah wartawan. Umumnya mereka akan menuliskan pengalaman tersebut dalam bentuk laporan dari Tanah Suci yang dimuat di media tempatnya bekerja. Bahkan, sebagian wartawan mengabadikan peng alaman berhaji tersebut dalam bentuk buku. Contohnya adalah Indra Utama, yang sehari-hari menjabat sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Property &amp; Bank.</p>
<p>Pengalamannya beribadah haji — melalui ONH biasa atau reguler selama 40 hari — ia tuliskan dan terbitkan dalam buku berjudul 40 Hari Menjadi Tamu Allah. Boleh dikatakan, inilah buku catatan haji pertama yang ditulis oleh seorang wartawan (jurnalis) dengan sangat rinci.</p>
<p>Penulis mengungkapkan perjalanannya sejak persiapan di Jakarta, melaksanakan Arba’in (shalat fardhu 40 waktu secara berjamaah di Masjid Nabawi) selama delapan hari di Madinah, termasuk perkembangan setiap kejadian, dari hari ke hari selama di Makkah, Arafah, Mina, Mudzdalifah, Jeddah hingga kembali ke Tanah Air.</p>
<p>Buku ini perlu dibaca oleh para calon jamaah haji sebagai panduan praktis berhaji. Bagi mereka yang sudah berhaji, buku ini pun dapat menjadi obat rindu untuk mengenang kembali kesyahduan menunaikan ibadah haji. ika/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/07/31/pengalaman-haji-seorang-jurnalis/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/07/31/pengalaman-haji-seorang-jurnalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggapai dan Merawat Kemabruran Haji</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/05/29/menggapai-dan-merawat-kemabruran-haji/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/05/29/menggapai-dan-merawat-kemabruran-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 09:27:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Merawat Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=520</guid>
		<description><![CDATA[Puncak prestasi seorang jamaah haji adalah menggapai haji mabrur, yakni haji yang diterima oleh Allah SWT dan tiada balasan yang lebih baik, kecuali surga. Namun, predikat haji mabrur itu tidak mudah digapai, kecuali oleh orang-orang yang ikhlas dan sungguh-sungguh dalam menunaikan niat, rukun, wajib dan sunnah haji. Setelah kembali ke Tanah Air, hal yang tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puncak prestasi seorang jamaah haji adalah menggapai haji mabrur, yakni haji yang diterima oleh Allah SWT dan tiada balasan yang lebih baik, kecuali surga. Namun, predikat haji mabrur itu tidak mudah digapai, kecuali oleh orang-orang yang ikhlas dan sungguh-sungguh dalam menunaikan niat, rukun, wajib dan sunnah haji.</p>
<p>Setelah kembali ke Tanah Air, hal yang tidak kalah pentingnya adalah merawat kemabruran haji itu agar tetap terjaga. Sebab, seperti halnya iman yang bisa naik-turun, kemabruran haji itu pun bisa menurun bahkan luntur sama sekali kalau tidak dipelihara dengan sebaik-baiknya.</p>
<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-521" title="didin" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/05/didin-150x100.jpg" alt="didin" width="150" height="100" />Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS</strong><br />
<em>Ketua Umum Baznas, Guru Besar IPB Bogor</em></p>
<p>Setiap tahapan berhaji memiliki makna tersendiri yang perlu dipahami oleh para jamaah haji yang melaksanakannya. Rasul pernah bersabda, &#8216;Ambillah dari aku tata cara berhaji&#8217;. Dari hadits tersebut, dapat kita lihat bahwa segala tata cara dalam berhaji sudah memiliki perincian maknanya masing-masing.</p>
<p>Ketika kita memakai pakaian ihram dan mengumandangkan <em>talbiyah</em> merupakan cerminan komitmen kita untuk datang memenuhi panggilan Allah SWT untuk menunaikan ibadah haji. Pakaian ihram yang sama untuk seluruh jamaah haji juga memiliki makna bahwa kita semua sebagai umat Islam adalah sama di mata Allah.</p>
<p>Melaksanakan tawaf di Ka&#8217;bah dan berjalan mengitari Ka&#8217;bah sebanyak tujuh kali, memiliki makna bahwa umat Islam merupakan umat yang dinamis dan jujur. Tawaf yang dilaksanakan tujuh kali hanya di pelataran Ka&#8217;bah saja mencerminkan bahwa segala pekerjaan yang dilakukan oleh umat Islam pun hendaknya selalu dilaksanakan di jalan Allah dan hanya berdasarkan petunjuk Allah SWT.</p>
<p>Berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah ketika sa&#8217;i memiliki makna bahwa kita tidak boleh berputus asa terhadap rahmat Allah. Melempar jumrah yang juga merupakan bagian dari rukun berhaji juga memiliki makna agar kita menjauh dari segala sifat buruk yang biasa dimiliki setan.</p>
<p>Sedangkan tahapan tahalul, ketika kita mencukur rambut merupakan bukti syukur kita dan kepatuhan kita terhadap perintah Allah SWT dengan mengorbankan sesuatu yang amat kita sayangi. Dalam hal ini, mengorbankan hal yang kita cintai tersebut direpresentasikan oleh mencukur rambut. n</p>
<p><strong>KH Masyhuri Baedlowi MA</strong><br />
<em>Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Indramayu</em></p>
<p>Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat istimewa. Tidak semua orang Islam bisa berangkat ke sana. Bahkan, seandainya pun uangnya melimpah, belum tentu bisa berangkat haji. Banyak calon jamaah haji harus menunggu dua, tiga bahkan empat tahun, baru mendapatkan porsi untuk pergi haji. Karena itu, kesempatan berhaji harus dimanfaatkan seoptimal mungkin agar mampu meraih haji mabrur.</p>
<p>Setidaknya ada tiga ciri haji mabrur, sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah saw.</p>
<ul>
<li><em>Pertama</em>, <em>ayyakuna tibil kalam</em> (supaya setelah haji omongannya enak, manis, menyenangkan, nggak menyakiti orang).</li>
<li><em>Kedua, ifsaus salam</em> (suka damai). Jadi, orang yang telah berhaji itu seharusnya tidak suka bertengkar, apalagi masalah sepele. Ia lebih menyukai perdamaian.</li>
<li><em>Ketiga, itamuth tha&#8217;am</em>, sosialnya semakin tinggi karena memberi makan masyarakat. Jadi, kalau sudah haji tapi dia masih pelit, koret, bakhil, berarti hajinya belum atau tidak  mabrur. n</li>
</ul>
<p><strong>Muhammad Bhakty Kasry</strong><br />
<em>Presiden Direktur PT PAS Travel</em></p>
<p>Seorang yang sudah bergelar haji wajib meningkatkan ketakwaannya. Disebut haji mabrur artinya ada perubahan untuk kebaikan dalam hal peningkatan kualitas ibadah setelah dia pulang haji dan menjauhi segala larangan Allah.</p>
<p>Orang yang hajinya mabrur bisa dilihat ciri-cirinya setelah dia pulang haji. Kebaikannya meningkat; ibadahnya, iman dan takwanya, shalatnya semakin membaik. Di keluarganya dia menjadi lebih baik, di kantornya pun dia menjadi lebih baik. Jadi, perbaikan itu ada dalam seluruh segi kehidupannya. Pendek kata, orang yang hajinya mabrur itu setelah pulang haji dia sangat bermanfaat bagi lingkungannya.</p>
<p>Untuk meraih haji mabrur harus dimulai sejak sebelum berangkat haji. Haji mabrur harus diawali dengan niat yang tulus untuk menjalankan rukun Islam yang kelima dengan sebaik-baiknya. Kemudian, harta yang dipakai untuk menunaikan ibadah haji harus harta yang halal dan jangan lupa mengeluarkan zakat. Tidak kalah pentingnya adalah mengikuti latihan manasik haji dengan sebaik-baiknya, sehingga betul-betul mengerti seluruh rangkaian ibadah haji yang akan dilaksanakan.  ika/ci2/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/05/29/menggapai-dan-merawat-kemabruran-haji/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/05/29/menggapai-dan-merawat-kemabruran-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cici Paramida, Ingin Tinggal Lama di Masjidil Haram</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/05/07/cici-faramida-ingin-tinggal-lama-di-masjidil-haram/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/05/07/cici-faramida-ingin-tinggal-lama-di-masjidil-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 02:17:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abidin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Kenikmatan paling indah bagi penyanyi dangdut kenamaan Cici Paramida, ternyata bukan popularitas atau kemegahan materi, namun ketika Allah mengabulkan doanya. Ia merasakan hal itu ketika meluncurkan album keempatnya beberapa tahun lalu. &#8221;Doa saya ternyata dikabulkan Allah, album keempat saya berjudul &#8216;Jangan Tunggu Lama-Lama&#8217; meledak di pasaran, dan mendatangkan rezeki bagi saya,&#8221; paparnya. Album tadi, kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_202" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-202" title="cici-ulang" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/05/cici-ulang.jpg" alt="Cici Paramida, Foto/Darmawan" width="200" height="257" /><p class="wp-caption-text">Cici Paramida, Foto/Darmawan</p></div>
<p>Kenikmatan paling indah bagi penyanyi dangdut kenamaan Cici Paramida, ternyata bukan popularitas atau kemegahan materi, namun ketika Allah mengabulkan doanya. Ia merasakan hal itu ketika meluncurkan album keempatnya beberapa tahun lalu. &#8221;Doa saya ternyata dikabulkan Allah, album keempat saya berjudul &#8216;Jangan Tunggu Lama-Lama&#8217; meledak di pasaran, dan mendatangkan rezeki bagi saya,&#8221; paparnya.</p>
<p>Album tadi, kata Cici, benar-benar merupakan rezeki dari Allah. Lalu ia pun menyukuri nikmat Allah tadi dengan menunaikan ibadah haji bersama kedua orang tuanya. Keinginan untuk bisa pergi ke Tanah Suci tersebut, aku Cici, sebenarnya memang sudah cukup lama. Apalagi setelah membaca buku-buku agama, sejarah nabi, serta tentang Madinah dan Makkah.</p>
<p>Tetapi baru tahun 1995 itulah ia benar-benar bisa mewujudkan impiannya untuk pergi ke Tanah Suci. Ketika pertama kali menunaikan ibadah haji, begitu tiba di Madinah hatinya benar-benar bahagia. Apalagi ia juga sempat mengunjungi Maqam Nabi Muhammad SAW. &#8221;Berada di Maqam Rasulullah, hati saya merasa tenang dan damai, bahkan tak henti-hentinya saya menangis, lalu saya berdoa di sana. Ketika berada di Masjidil Haram, saya ingin berlama-lama di sana,&#8221; katanya mengenang.</p>
<p>Itulah perjalanan pertama wanita kelahiran Jakarta 7 September 1972 ke Tanah Suci. Setelah itu, bersamaan dengan bulan Ramadhan, walau hanya umrah, Cici kembali ke Tanah Suci. Begitu sampai menginjakkan kakinya di Tanah Suci, hatinya merasa berdebar-debar, apalagi ketika memasuki Masjidil Haram. &#8221;Selama dalam perjalanan, saya merasa nggak sabaran ingin cepat sampai di Masjidil Haram dan ingin melihat Kabah. Pokoknya ingin cepat sampailah.</p>
<p>Begitu tiba di tempat itu, saya langsung melakukan thawaf qudum. Di tempat itu saya menangis lagi sejadi-jadinya. Saya kemudian berdo&#8217;a: &#8216;Ya Allah Engkau telah mendatangkan aku ke sini&#8217;. Perasaan saya waktu itu, ingin tinggal seterusnya, nggak ingin balik lagi, ingin berlama-lama,&#8221; kata Cici. Di Multazam,, Cici mengaku banyak mengucap doa. Sejak dari minta kesehatan dan keselamatan, diberikan umur panjang, kelangsungan hidup yang baik, terutama untuk beribadah kepada Allah, sampai ingin diberikan jodoh.</p>
<p>Pada kesempatan itu, ia menyerahkan semua persoalan kepada Allah. Ia pasrah, bahkan dalam salah satu ucapannya ia mengatakan &#8216;Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, bila pun Engkau ingin memanggilku, aku sudah pasrah&#8217;. Ketika mau berangkat ke Arafah untuk wukuf, Cici sempat terserang demam, sehingga ia ditinggal jamaah lainnya. &#8221;Saya istirahat dulu di rumah sakit, ketika berbaring saya berdoa lalu shalat, alhamdulillah tiba-tiba kok saya seperti bangun dari sakit, sehat dan langsung berangkat ke sana,&#8221; ceritera Cici.</p>
<p>Cici memperkirakan, demam yang dideritanya itu akibat terlalu banyak minum es ketika berada di Masjidil Haram. Namun seusai wukuf di Arafah, kepala Cici merasa pusing lagi. Ketika itu ia melihat begitu banyak orang yang semuanya tengah berdzikir, menyebut nama Allah. Perasaan itu, katanya, seperti dalam sebuah mimpi, antara tertidur dan tidak. Bahkan ia mengaku, kejadian tersebut terasa dalam sebuah impian panjang.</p>
<p>Ia merasa telah tertidur lama. Ia merasa bermimpi dan dalam impiannya itu ia merasa ada sesuatu yang membisikkan suara: nanti, di alam kubur akan begini. Begitu menyadari keadaan, ia langsung mengucap istighfar berkali-kali. Peristiwa itu terjadi, pada waktu siang yang terik dan udara sangat panas.</p>
<p>&#8221;Bayangan itu nyata sekali. Mungkin saya terbawa suasana. Tapi sedikitpun nggak merasa takut, malah saya bilang, wah nanti akan begini kalau kita sudah mati, dibangkitkan lagi.&#8221; Waktu itu, Cici merasa bukan mimpi, melainkan merasa dirinya sudah mati, lalu dibangkitkan kembali. Ia melihat, begitulah nantinya, semua orang akan berkumpul di tempat itu bersama orang-orang yang dibangkitkan kembali dari alam kubur.</p>
<p>Peristiwa itu, kata Cici, bukan mimpi, karena waktu itu Ia merasa pusing, lalu terbangun. Lalu apa makna ibadah haji bagi dirinya? Penyanyi yang selalu tampil santun di atas panggung ini mengatakan, ibadah haji itu adalah panggilan Allah, untuk lebih mengenal Allah, untuk lebih dekat dengan Allah, sehingga menyadarkan kita, bahwa dalam hidup ini tidak hanya memikirkan soal duniawi saja. &#8221;Kalau di sana, pikiran kita hanya ingin beribadah yang sekhusyuk-khusyuknya.</p>
<p>Bagi saya bisa menambah keimanan, dan menyadarkan agar kita tidak hanya berpikir soal dunia saja. Di sana membuat saya berpikir apa bekal yang akan dibawa ke akherat kelak,&#8221; katanya. Ke Tanah Suci pada musim haji ternyata berbeda dengan umrah di bulan Ramadhan. Berada di Masjidil Haram pada bulan suci Ramadhan, sangat terasa ada suasana kebersamaan sesama umat Islam.</p>
<p>Sebelum menunaikan ibadah umrah Ramadhan, Cici pernah mendengar dari cerita teman-temannya, bahwa suasananya sangat berbeda.&#8221; Mendengar cerita itu, membuat saya ingin sekali merasakan secara langsung. Ternyata benar, suasananya sangat berbeda dengan di Tanah Air. Di sana kita berbuka bersama ribuan jamaah lain, dan banyak orang membagi-bagikan makanan,&#8221; katanya.damanhuri Zuhri/dokrep/Januari 2004</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/05/07/cici-faramida-ingin-tinggal-lama-di-masjidil-haram/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/05/07/cici-faramida-ingin-tinggal-lama-di-masjidil-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
