Jangan Abaikan Manasik

19 April 2013 | Kategori: Tips

Jangan pernah abaikan program manasik. Program yang ditujukan sebagai pembekalan sebelum berangkat ke Tanah Suci ini dinilai sangat penting. Bahkan, Rasulullah pun secara gamblang menyerukan kepada umatnya untuk mengikuti cara manasik yang ia lakukan. ”Kalau kami menilainya (manasik) ini sudah seperti hukum fardhu ain alias harus diikuti,” kata Muhammad Hasan dari Gaido Travel dalam perbincangan dengan ROL  di Jakarta.

Hasan menegaskan peran manasik ini sangat diperlukan. Terutama kepada para calon jamaah yang masih awam tentang pengetahuan haji dan umrah. “Karena itu, kami memiliki standar baku untuk program manasik ini. Siapa pun ustaz atau kiai yang memberikan manasik maka mereka harus merujuk pada aturan yang ada di Alquran dan sunah,” ujarnya.

Untuk mengikuti perkembangan teknologi yang sudah semakin maju, Hasan tak pernah menutup diri. Pada setiap program manasik, kata dia, pihaknya memberikan pembekalan kepada para calon jamaah secara lisan dari para ustaz atau kiai serta menggunakan perangkat multimedia.

Perangkat multimedia ini, jelasnya, bertujuan untuk memberikan kemudahan kepada para calon jamaah dalam memahami setiap penjelasan yang telah disampaikan oleh ustaz maupun kiai. ”Kami paham melihat biasanya lebih mudah daripada mendengar. Itulah sebabnya dalam program manasik kami juga memberikan bentuk audio-visual,” ungkap Hasan.

Hasan tak menampik jika pembekalan yang dilakukan selama masa manasik bisa diterima secara baik oleh para calon jamaah maka akan membuka pula peluang untuk mendapatkan status haji mabrur.

”Untuk menjadi haji mabrur memang bergantung pada niat. Tetapi, juga bagaimana keseriusan dalam memahami ibadah haji secara optimal semasa manasik akan membantu mereka untuk bisa mendapatkan haji mabrur,” paparnya.

Sementara itu Rum Mansyur dari Al Ahram Travel mengatakan, program manasik hadir sebagai upaya untuk menyamakan visi dan misi calon jamaah sebelum sampai ke Tanah Suci. Dengan adanya persamaan tersebut, tak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan di Tanah Suci mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rangkaian ibadah haji atau umrah.

Program manasik ini, kata Rum, tak hanya dilihat secara hitam putih saja. Dalam artian, manasik hanya dihadirkan sebagai pembekalan kepada para calon jamaah agar mengerti hukum ibadah haji secara syari. Tetapi, kunci keberhasilan manasik lebih mendorong kepada para jamaah agar setiap diri mereka bisa yakin kepada janji Allah. ”Motivasi itulah yang kita gali. Kami ingin lewat manasik, para calon jamaah mempunyai pembekalan diri seperti halnya seorang Siti Hajar. Mereka harus yakin pada diri sendiri,” ujarnya.

Untuk program manasik ini, Rum mengatakan, pihaknya mengemasnya seperti bentuk pesantren kilat. Durasi waktu yang dilakukan tiga hari tiga malam. Pembekalan yang diberikan dilakukan secara terstruktur dan intensif. ”Artinya, mereka kita berikan ilmu tentang ibadah haji atau umrah itu seperti apa. Selain itu, mereka juga kita latih untuk mempersiapkan diri seperti bangun jam tiga pagi. Lalu secara rutin mereka kita ajak untuk mendengarkan ceramah selepas Subuh sampai Isya. Semua itu sudah kami program,” urainya.

Secara terpisah Sekretaris Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama Cepi Supriatna menyatakan, penyelenggaraan haji ke depan harus menekankan pada aspek bimbingan manasik haji. Hal tersebut merupakan kunci dan roh dari rangkaian ritual haji.

”Bimbingan manasik haji ikut menentukan kemabruran haji seseorang sehingga diharapkan dapat membawa pengaruh positif bagi kualitas kesalehan sosial,” kata Cepi.

Rep: M Akbar