Perhatikan Kondisi di Arab Saudi

23 September 2012 | Kategori: Tips

Tanah Suci Makkah, Arab Saudi. Foto: Reuters.

REPUBLIKA.CO.ID, Kondisi iklim, cuaca, suhu, kelembaban udara, dan bahkan adat istiadat masyarakat di Tanah Suci jauh berbeda dengan di Indonesia. Apabila perbedaan-perbedaan tersebut tidak diperhatikan secara serius maka tidak menutup kemungkinan gangguan kesehatan akan menyerang para jamaah haji atau umrah.

Arab Saudi terkenal sebagai negara yang sangat panas dan gersang. Namun demikian, wilayah-wilayah yang berada pada titik sub-tropis memiliki dua musim, yaitu panas dan dingin. Daerah tropis terletak antara garis 23,5° Lintang Utara dan 23,5° Lintang Selatan. Pada peta dunia, daerah ini bisa dilihat pada garis Cancer dan Capricorn.

Meski begitu, iklim tropis di Arab Saudi, yang juga dikenal dengan iklim padang gurun, berbeda dengan iklim tropis di negara-negara lainnya. Iklim padang gurun akan terasa sangat panas terutama bagi jamaah haji yang berasal dari daerah dingin, seperti Eropa.

Musim panas di Arab Saudi berlangsung antara bulan April sampai Oktober. Mulai bulan Mei udara panas akan terus berhembus hingga bulan Agustus. Pada siang hari, suhu udara bisa mencapai 550 C. Saat musim panas inilah penduduk Arab Saudi panen kurma. Di sejumlah perkebunan kurma, buah khas padang pasir itu biasanya matang di pohonnya.

Sementara itu, musim dingin berlangsung pada bulan Nopember hingga Maret. Pada bulan-bulan ini angin biasanya bertiup sangat kencang, bahkan kadang terjadi hujan es. Puncak musim dingin terjadi pada Desember hingga Januari. Suhu udara pada dua bulan itu bisa mencapai 20 derajat Celsius.

Orang-orang yang berasal dari Indonesia tentu tidak terbiasa dengan kondisi cuaca semacam itu. Apalagi kelembaban udara di Arab Saudi sangat rendah (12-16 persen). Mengingat kondisi alam yang sedemikian rupa tentu sangat berbahaya jika jamaah haji atau umrah asal Indonesia mengabaikan persiapan kesehatan mereka sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Editor: Dewi Mardiani
Reporter: Hannan Putra