Persiapan Panjang Haji dan Umrah

10 June 2009 | Kategori: Tips

h-110Lebih dari sekadar persiapan fisik, tidak kalah pentingnya adalah persiapan ilmu dan kebersihan lahir dan batin.  Termasuk kehalalan rezeki yang digunakan untuk  menunaikan haji atau umrah, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Keinginan untuk dapat melaksanakan ibadah di Tanah Suci dapat dilaksanakan melalui berhaji dan umrah. Berbeda dengan haji yang hukumnya wajib bagi umat Islam yang mampu, hukum dari ibadah umrah adalah sunnah. Tapi, umrah akan menjadi wajib manakala telah diniatkan atau menjadi nazar.

Setiap Muslim yang ingin menunaikan ibadah haji dan umrah, tersimpan dalam hatinya  harapan ketika kembali ke Tanah Air akan mendapatkan ridha Allah SWT dan diterima segala ibadahnya. Bagi yang berhaji berharap menjadi haji yang mabrur. Sedangkan yang melaksanakan ibadah umrah berharap mendapatkan predikat <I>maqbulah<I> atau umroh yang diterima.

Ustadz Bobby Herwibowo, dari Dompet Dhuafa Travel mengungkapkan bahwa untuk bekal persiapan haji perlu dilakukan pesiapan lahir dan batin secara terintegrasi untuk mengoptimalkan pelaksanaan ibadah di Tanah Suci. ”Beribadah haji dan umrah perlu persiapan panjang. Secara lahir perlu diperhatikan kesehatan fisik calon jamaah. Karena ibadah haji merupakan ibadah fisik, selain melakukan persiapan manasik haji, perlu juga dilakukan latihan fisik,” jelas Ustadz Bobby.

Menurutnya, salah satu latihan fisik yang diperlukan namun kerap terlupakan adalah latihan untuk duduk. ”Latihan ini diperlukan mengingat para jamaah haji harus duduk selama belasan jam dalam ritual i’tikaf yang merupakan salah satu rukun berhaji,” lanjutnya.

Dari segi usia diharapkan jamaah yang akan berangkat haji berusia di bawah 50 tahun. Sebab, di atas usia 50 dikhawatirkan jamaah akan menemukan kesulitan-kesulitan ketika menjalankan ritual berhaji yang membutuhkan kesiapan fisik yang baik. ”Oleh sebab itu alangkah baiknya apabila kita mulai menata hati dan niat kita untuk mulai mempersiapkan ibadah haji sejak usia 20, atau 30-an,” ungkap Bobby yang yang juga anggota dari Majelis al-Kauni, Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.

Menurutnya, secara finansial kita dapat mulai mempersiapkan tabungan untuk berhaji sejak jauh-jauh hari sembari mempersiapkan ilmu berhaji melalui banyak membaca dan mendengarkan pengalaman dari orang-orang yang telah terlebih dahulu berangkat. ”Karena ibadah haji merupakan ibadah yang cukup dilakukan satu kali seumur hidup kita perlu mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh untuk menggapai kemabruran,” tuturnya.

Ustadz M Saifullah MA, da’i danKepala salah satu Madrasah Aliyah yang terletak di kawasan Bojong Sari, Sawangan, Depok, Jawa Barat mengungkapkan hakikat dari melaksanakan ibadah haji dan umrah adalah niatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membawa perubahan kepada umat yang melaksanakan tentunya ke arah perbaikan. Mempersiapkan biaya yang diperoleh secara halal, meluruskan niat untuk ibadah, bertaubat kepada Allah, dan meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah diperbuat, sangat penting untuk dilakukan.

”Allah Mahasuci dan hanya menerima yang baik. Oleh karena itu, harta yang dipergunakan untuk berangkat ke sana haruslah harta yang bersih. Mempelajari cara berhaji dan berumrah dengan manasik haji dan umrah juga jangan sampai terlewatkan. Hal ini merupakan persiapan yang sangat esensil untuk dilakukan sebelum berangkat,” jelasnya.

Menurut alumni UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang ini., sebaiknya kita senantiasa mengerjakan ibadah yang diwajibkan terlewbih dahulu dibandingkan dengan yang sunnah hukumnya.  ”Sebenarnya dalam memandang ibadah umroh kita harus mengingat bahwa umrah merupakan ibadah yang sunnah, sedangkan haji merupakan ibadah yang wajib. Apabila kita diberikan kelebihan rizki oleh Allah untuk dapat berangkat haji atau umrah setiap tahun lebih baik rizki tersebut disedekahkan karena haji dan umrah itu hukumnya hanya sekali seumur hidup,” katanya mengingatkan.

Pimpinan Wisata Hati, Ustadz Yusuf Mansur mengungkapkan dalam mempersiapkan diri sebelum kita berangkat menunaikan ibadah haji, kita perlu meluruskan niat, melegalkan harta, melapangkan dada, lincah ibadah, lembut bicara, dan melengkapi ilmu agama yang kita miliki. ”Luruskan niat kita berangkat hanya untuk beribadah karena Allah, memastikan bahwa tidak ada bagian yang haram pada harta yang kita gunakan untuk berangkat, berlatih sabar, pelihara ucapan dan pikiran kita, manfaatkanlah semua waktu yang kita miliki di Tanah Suci hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, serta yang terakhir bekalilah diri kita dengan ilmu berhaji sehingga ibadah yang kita lakukan di sana maksimal,” jelasnya.

Menurut Ustadz Yusuf, dalam mempersiapkan ilmu beribadah jangan sampai kita hanya ikut-ikutan dan tidak memahami maknanya dengan tepat. ”Kita harus memahami makna ibadah yang kita lakukan dengan baik, baik itu shalat, puasa, dan berzakat. Dalam hal berhaji pemahaman ilmu manasik yang kita miliki harus lengkap. Inilah langkah untuk mencapai kemabruran,” ujarnya.

Ia menegaskan, mempersiapkan keberangkatan haji sebaik mungkin dan menjaga kehajian yang diperoleh setibanya di Tanah air, tentunya menjadi kewajiban, sekaligus harapan bagi para jamaah haji, tidak hanya di Indonesia, tapi di manapun. Arah kehidupan yang membawa nilai kebaikan, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang-orang terdekat pun diharapkan timbul setelah melaksanakan ibadah yang menjadi kewajiban bagi seluruh umat Islam yang mampu secara fisik dan finansial.

Dalam surah al-Baqarah ayat 197, Allah SWT menegaskan, ”Barang siapa yang telah menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, makaia tidak boleh <I>rafats<I> (berkata-kata dan berbuat sesuatu yang mengarah kepada seks), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji.”

Menurut Yusuf Mansur, untuk mendapatkan kemuliaan predikat mabrur bagi jamaah yang menunaikan ibadah haji, perlu terkumpul pula di dalam hatinya niat yang ikhlas, melaksanakan haji sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad saw, dan mempergunakan harta yang diperoleh secara halal untuk melaksanakannya ibadahnya.  Ci2/yto