Pasar Seng Tinggal Kenangan

22 October 2009 | Kategori: Tempat Belanja

Pasar Seng (Republika)Sampai musim haji 2006, jamaah yang mendatangi Makkah pastilah mempunyai cerita tentang Pasar Seng. Pasar yang terletak berdekatan dengan Masjidil Haram ini layaknya Pasar Tanah Abang di Jakarta.

Bila ditarik garis lurus, Pasar Seng terdapat di ujung jalan dekat perpustakaan atau rumah lahir Nabi Muhammad SAW. Aneka dagangan dijajakan di sana. Bukan saja makanan, segala macam cendera mata seperti pedang hiasan ala Arab, pakaian, jam tangan, tasbih, parfum, minyak wangi, perlengkapan shalat (sajadah, mukenah, peci), buku, dan kaset-kaset Islami, tersedia di pasar legendaris ini.

Cendera mata yang diperdagangkan juga banyak yang buatan Cina, India, Bangladesh, Turki, Mesir, bahkan Indonesia.Konon, penyebutan Pasar Seng karena awalnya bangunan toko yang ada di pasar tersebut beratapkan seng (zinc ). Kecuali, harga-harganya yang relatif murah, ketersediaan segala macam buah tangan untuk dibawa pulang ke tanah air jamaah haji, menjadikan Pasar Seng surga belanja bagi mereka.

Sampai musim haji 2006, Pasar Seng selalu dipadati jamaah. Tak ada toko yang sepi pembeli. Jamaah Indonesia termasuk yang paling ditunggu para pedagang Pasar Seng. Selain jumlahnya yang paling banyak, jamaah haji Indonesia dikenal sebagai jamaah yang ””doyan”” belanja.

Banyak cerita betapa para pedagang Pasar Seng mencoba menyelami psikologis orang Indonesia dengan memasang gaya keramahan khas masyarakat Nusantara. Ada pedagang yang langsung memeluk dan mencium pipi jamaah haji Indonesia (tentu yang satu jenis kelamin) guna menunjukkan keramahannya.

Kosakata bahasa Indonesia mereka juga kaya kendati tak bisa disebut lancar berbahasa Indonesia. Tujuannya tak lain agar jamaah Indonesia terpikat berbelanja di toko mereka.
Kata-kata fasih seperti, ””””Murah, ini satu riyal saja”””” atau ””””Halal, murah, beli di sini saja,”””” acap terdengar di Pasar Seng. Tanpa mengurangi keramahannya, pedagang yang tak bisa berbahasa Indonesia langsung menyodorkan kalkulator yang sudah diketik deretan angka penanda harga barang yang ingin dibeli. Bila tertera angka 40, berarti barang yang ingin dibeli jamaah seharga 40 riyal.

Tapi, kini cerita keramaian dan keunikan Pasar Seng tinggal kenangan. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sudah membongkar areal sekitar Masjidil Haram, Makkah, itu guna perluasan kawasan masjid.

Pasar Seng hanyalah satu dari sekian banyak yang menjadi ””””korban”””” kebijakan Pemerintah Arab Saudi. Sejumlah hotel dan bangunan lain di sekitar Masjidil Haram turut tergusur. Bangunan Hotel Sheraton yang megah pun tak mampu mengelak dari penggusuran.

Ada pula Masjid Kucing dan Hotel Soraya yang berdekatan dengan Pasar Seng dirobohkan. Hotel-hotel lain seperti Qurtuba, Zahret, Darkum, Talal, Firdaus Umrah, dan Firdaus Makkah mengalami nasib sama.

Melalui Surat Keputusan (Qarar) Majelis Ulama Arab Saudi tentang dibolehkannya perluasan  mas””a (tempat sa””i) bernomor 227 tertanggal 22 Safar 1427 H bertepatan tanggal 22 Maret 2006, pemerintah setempat memulai pembongkaran kawasan sekitar Masjidil Haram.

Menurut Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, perluasan  mas””a bertujuan untuk memberikan pelayanan terhadap kenyamanan dan kemudahan para tamu Allah saat melaksanakan ibadah haji.

Yah , begitulah ceritanya. Pasar Seng kini tinggallah kenangan. Perluasan kawasan masjid atas nama kepentingan terhadap para jamaah haji telah mengantarkan Pasar Seng ke lipatan catatan sejarah. Harga yang terpaksa harus dibayar guna kebaikan yang lebih besar lagi.  ade/berbagai sumber/Slamet Riyanto

28 Responses to “Pasar Seng Tinggal Kenangan”

  1. asty on November 15th, 2009 5:43 pm

    Memang sayang, tempat2 nostalgia tinggal kenangan. Tapi jika untuk kepentingan ibadah, kebijakan pemerintah Saudi harus didukung!

  2. yani on November 19th, 2009 4:17 pm

    Cuma ralat tahunnya, alhamdulillah saya berangkat haji tahun 2007 dan pasar seng masih ada kok meski pembangunan Masjidil Haram sudah sampai di seberang jalannya

  3. heru on December 9th, 2009 2:50 am

    ya ralat tahun 2008 saya ada foto2nya , jadi setelah 2007 diratakan.

  4. hajimurah on January 23rd, 2010 12:40 pm

    Tidak saja di Indonesia , di Arab Saudi budaya gusur juga ada rupanya.
    Tapi sah-sah saja kalo demi kepentingan ibadah haji,dan mudah2an pemerintah Arab Saudi membangunkan kembali tempat berjualan bagi PKL dengan yang lebih permanen dan lebih nyaman. Semoga

  5. Mohd Saad on January 31st, 2010 2:10 pm

    Untuk entri pasar seng boleh melawat blog saya msaadhamid.blogspot.com Dan untuk menonton video klip pasar seng boleh lihat di youtube: http://www.youtube.com/watch?v=wlo7YEWhJaE

  6. Ridho. H on March 18th, 2010 10:45 am

    Kalau menurut saya sayang ya… padahal sebetulnya andaikan tidak diperluas pun masih menampung jamaah Haji, apa lagi dengan dimbongkarnya masjid Kucing, karena itu merupakan salah satu bangunan bersejarah bagi dunia Islam. Mestinya kedepannya pemerintah Arab Saudi lebih bijak lagi. karena saya perhatikan banyak banyak tempat bersejarah yang kemudian di bongkar. contonya Saja masjid Kiblatain. Saya tahun 2006 sholat di Masjid kiblatain sudah tidak ada lagi kiblat yang menghadap ke Yerusalam katanya sudah di bongkar

  7. firawati on April 21st, 2010 9:15 pm

    pasar seng thn 2007/ 2008 msh ada…eh pas 2009 brgkt umrah ga ada..betul2 cepat perubahan di dekat mesjidl haram….apalgi thn 2020???subhanallah pasti lbh luas lg mesjidil haram

  8. Ry on April 28th, 2010 8:14 pm

    Masjid Kuching jg dibongkar ya ?? sangat disayangkan sekali. Saya brangkat haji thn 2007 dan sempat shalat ashar di depan masjid Kuching, karena waktu itu sudah masuk jamnya shalat.

  9. Hafidz on June 17th, 2010 2:58 pm

    Alhamdulillah, saat haji 1426 H yang lalu, saya masih merasakan jalan-jalan di Pasar Seng, tempat sa”i lama, jamarat 2 tingkat dll. sekarang semuanya udah pada di bongkar……..Allahu Akbar……

  10. Hafidz on June 17th, 2010 3:06 pm

    Konon kalau Raja Saudi minta sesuatu, pasti rakyatnya dengan sukarela akan memberikan, termasuk bangunan-2 disekitar Masjidil Haram, tapi disana tidak ada ganti rugi, yang ada ganti untung.

  11. arsihmarthias on July 28th, 2010 3:14 pm

    Thn 2010 sy Umroh ,psr seng sdh rata dbongkar tdk ada sisa bangunan psr seng ny, orang2 yg belanja skrg dtoko pinggir jln saja .

  12. puryadi hadisuyono on August 7th, 2010 9:24 am

    sayang kalau masjid Qiblatain di bongkar, sebenarnya termasuk situs sejarah kala umat Islam menghadap sholat ke arah masjid al-Quds, khawatir antek Yahudi memasuki ranah pengkerdilan terhadap situs sejarah Islam, sama terhadap masjid kubah emas di Palestina, antek Yahudi menganggap bersemayamnya nabi Muhammad saat Isra””, padahal ada masjid al Quds di Palestina yang sebenarnya tempat bersemayamnya Isra”” nabi Muhammad, dan masjid itu sekarang dibawahnya oleh Zionis-Yahudi digali terowongan yang katanya utk perpustakaan Yahudi sebelum masjidnya dirobohkan.

    Yahudi tidak bisa menghancurkan ideologi Islam, tapi kelicikan mereka menghancurkan situs Islam, apakah kita berdiam saja? Nanti lama-lama warisan Islam disekitar masjidil Haram secara halus akan mereka bongkar

  13. Amzar on August 30th, 2010 1:49 pm

    Wah, terkenang lagi saat di sana musim haji 2006, Desember 2006 sampai Januari 2007. Maktab saya di kawasan Sulaymaniyah, cuma 900 meter dari Masjidil Haram. Pasar Seng tinggal kenangan

  14. Wawan on August 31th, 2010 3:45 pm on August 31st, 2010 3:43 pm

    Alhamdulillah kenangan saat menunaikan ibadah Haji Desember 2007 terkenang kembali , ketika itu setelah jalan Shafa – Marwah waktu malam merasa lapar kami mampir dulu ke Baso si Doel dan minum juice buah di Pasar Seng sambil duduk di depan toko emas yg berjejer disitu, sementara tukang pangkas rambut sibuk memanggil para jamaah haji…..kini Pasar Seng hanya tinggal kenangan..Allahu Akbar.

  15. Hasan Basrie Alcaff on October 10th, 2010 9:34 pm

    Subhanallah, jika terdengar nama pasar “Seng”aku terkenang dengan pengalamanku di thn 2005, saat aku membawa 3 orang ibu-ibu yg akan berbelanja, Ya ada-ada aja ituh orang Arab….dan besoknya ibu-ibu kapok.

  16. Heru Jakarta on October 15th, 2010 9:59 am

    Aww. Pasar Seng tinggal kenangan. Ketika menunaikan ibadah haji Desember 2006 untuk ke Masjidil Haram dari pondokan dilewati setiap hari. Sayang kalau masjid Kucing harus dirobohkan …..

  17. Aminuddin on October 15th, 2010 6:16 pm

    Ada baiknya juga dibongkar sebab kalo habis pulang dari shalat berjama’ah di harom mau plg ke maktab pasti macet sama yg belanja, sebel juga deh…tp gak enaknya kalau lg bosen dan bete gak bisa mejeng dipasar seng lagi deh….hehe

  18. Anshory Madjid on October 16th, 2010 3:42 pm

    Waktu th. 2001 ku berkesempatan menjalankan ibadah haji. Maktabnya ada di Ghararah, tinggal nyeberang jalan saja dari Masjidil Haram. Kalo malam suka jalan-2 ke Pasar Seng, karena sangat dekat. Ternyata skrg tinggal kenangan. Insya Allah, tgl 30 Oktober ini aku mendpt kesempatan untuk mengunjungi Makkah lagi, kloter 52 SUB. Mudah-2an fasilitas untuk ibadah semakin sempurna. Mohon doa restu.

  19. zainal on October 17th, 2010 7:05 pm

    2007 masih ada pasar seng, masih inget ketemu dengan anggota DPR Komar belanja di sana.

    Sangat setuju dengan kebijakan pemerintah saudi menggusur pasar tersebut, yang penting ibadah dan sarananya memadai.

    Mudah2an tahun ini jamaah haji indonesia diberi kemudahan dalam segala hal, sampai kembali ke tanah air.

  20. nanang on October 21st, 2010 10:11 am

    alhamdulillah .saya termasuk orang yang bersyukur bisa pergi ke tanah suci (2004) sempat juga belanja ke pasar seng…,sebenarnya sayang kalo pasar seng di bongkar , tapi kalo mau maju memang harus ada yang di korbankan.. tapi sayang kalo rumah kelahiran nabi yang sekarang menjadi perpustakaan turut di bongkar juga.., tapi kenangan ke tanah suci memang tidak bisa dilupakan.. meskipun sudah 6 tahun.. rasa rindu pergi ke tanah suci semakin hari semakin kuat. semoga Allah masih memberikan kesempatan ke sana lagi…

  21. gen norman on October 27th, 2010 5:10 pm

    Kalau masjid kucing di bongkar sangat disayangkan, sudah berkurang satu lagi mesjid bersejarah di Mekkah. Saya teringat menunaikan ibadah haji desember 2006 yang lalu, tetapi bagaimana dengan masjid jin apakah juga dibongkar ? Semoga jangan ya.

  22. mursalin on November 2nd, 2010 5:10 am

    situs-situs bersejarah itu memang penting dipelihara, tentu pemerintah arab saudi ada prioritas utama dalam kebijakannya,yakni kenyamanan beribadah haji bukan untuk belanja,

  23. Nasiruddin on December 17th, 2010 8:41 am

    Untuk kenyamanan jamaah haji / umrah bagus sekali, namun disana herannya pepatah : pembeli adalah raja betul2 tidak berlaku,belanjaan kita tidak dibungkus kan tapi di lempari kantong untuk self bungkus, he2

  24. travel on February 17th, 2011 3:05 pm

    wah sayang tuh….

  25. Wiwin on February 22nd, 2011 2:53 pm

    Alhmdllh saya sempat ke pasar seng. Kadang stlh Jamaah Subuh mampir beli Teh dan Kebab, atau Nasi Buchori dan ayam goreng untuk dimakan rame-rame satu regu di penginapan . Lumayan tidak perlu masak .. Kl skr dibongkar krn untuk perluasan Masjid bagus juga sih , karena mmg kesannya kumuh .

  26. asmar sainur on September 22nd, 2011 9:17 am

    kebijakan pemerintah saudi perlu didukung demi kenyamanan jemaah haji dan keindahan di sekitar mesjid haram

  27. Djamaluddin Rambe on May 22nd, 2012 3:28 pm

    Mura…muraa…para pedagang…i terdengar menjajakan barng dagangannya khusus utk menarik minat jamaah dari Indonesia , apkh masih akn terdengar suara..tsb?

  28. Hafnida Dalimunthe on May 22nd, 2012 3:46 pm

    masih om, pasar seng nya cuman mundur beberapa meter aja kok…