Gua Tsur dan Kisah Hijrah Rasulullah SAW

3 May 2012 | Kategori: Tempat Bersejarah

Jamaah calon haji melakukan shalat di dalam Gua Tsur di kawasan Jabal Tsur di sebelah selatan Makkah, Arab Saudi. Foto: Antara.

REPUBLIKA.CO.ID – Gua Tsur terletak di Jabal (Bukit) Tsur. Tepatnya di sebelah selatan Masjidil Haram sejauh 4 kilometer.

Tinggi gua ini dari permukaan laut sekitar 748 meter atau 458 meter dari permukaan gunung. Gua ini merupakan bebatuan yang keras dan berbentuk seperti perahu yang terbalik. Tinggi gua ini sekitar 1,25 meter, sedang panjang dan lebarnya 3,5 x 3,5 meter.

Gua ini memiliki dua pintu. Satu pintu dari sebelah barat tempat dahulu Rasulullah pernah memasukinya. Pintu itu hanya bisa dimasuki oleh seorang dengan menempelkan perutnya.

Pintu tersebut diperluas pada awal abad ke-9 H dan berakhir pada abad ke-13 H. Jarak ketinggiannya 1 meter dengan sebuah lorong yang diukir pada bagian atasnya.

Satu pintu lagi dari sebelah timur. Pintu ini lebih luas dari pintu pertama. Ada juga yang mengatakan bahwa pintu ini dibuat untuk memudahkan orang yang berziarah masuk dan keluar dari gua itu. Jarak antara dua pintu itu adalah 3,5 meter.

Gua Tsur tidak berada di bawah puncak bukit. Medan yang dilalui untuk sampai ke Bukit tersebut sangat sulit untuk didaki. Untuk sampai ke sana dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa ketika Nabi SAW dan Abu Bakar sampai di gua ini dalam perjalanan hijrah mereka ke Madinah. Abu Bakar memasuki gua terlebih dahulu untuk memeriksa apakah di dalamnya ada binatang buas atau ular. Sedangkan Rasulullah menunggu di luar.

Setelah Abu Bakar selesai, barulah Nabi SAW memasukinya. Ketika itu Abdullah bin Abu Bakar ikut juga bermalam bersama keduanya. Ia pulang dari gua itu menjelang pagi. Pagi harinya ia telah berada bersama orang-orang Quraisy di Makkah untuk mencari berita.

Setelah itu, ia kembali mendatangi keduanya untuk menyampaikan berita tentang orang-orang Quraisy. Sedangkan Amir bin Fahirah, pembantu Abu Bakar, menggiring gembalaannya menghapus jejak Abdullah.

Tentang hal ini Allah menyebutkan dalam firman-Nya, “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya. (Yaitu) ketika orang-orang kafir (Makkah) mengeluarkannya dari Makkah, sedangkan dia adalah salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua. Di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.” (QS. At-Taubah: 40).

Dalam Shahih Bukhari, Abu Bakar berkata, “Aku bersama Rasulullah di dalam gua itu. Aku melihat telapak kaki orang-orang musyrik. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka mengangkat kakinya, niscaya mereka akan melihat kita.” Namun, Rasulullah menghibur Abu Bakar dan bersabda, ‘Apakah persangkaanmu terhadap dua orang sedang yang ketiganya adalah Allah?”

Sesudah tiga malam dan pencarian kaum kafir Quraisy mereda, datanglah seorang penunjuk jalan yang bernama Abdullah bin Uraiqat dengan dua ekor binatang tunggangan. Lalu Abu Bakar memboncengi pembantunya, Amir bin Fahirah, hingga akhirnya mereka sampai di Madinah Al-Munawwarah.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Kota Makkah Klasik dan Modern oleh Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani