Maqam Ibrahim

1 November 2011 | Kategori: Tempat Bersejarah

Tempat pelindung Maqam Ibrahim. Foto: Republika/Priyantono Oemar

Maqam Ibrahim adalah sebuah batu tempat berdiri Nabi Ibrahim saat pembangunan Ka’bah ketika dinding sudah semakin tinggi. Ibrahim naik ke atasnya, sedangkan Ismail mengambil dan menyerahkan batu kepada ayahnya. Lalu Ibrahim meletakkan batu itu dengan tangan untuk meninggikan dinding Ka’bah.

Setelah menyelesaikan satu dinding, dia pun beralih ke dinding yang lain. Dia berkeliling di seputar Ka’bah, berpindah dari satu dinding ke dinding lain hingga Ka’bah selesai dibangun.

Jejak telapak kaki Ibrahim jelas terlihat di batu ini. Bahkan, bangsa Arab jahiliyah sudah mengenalnya. Paman Nabi Muhammad SAW, Abu Thalib, berujar dalam syairnya:
Tempat berpijak Ibrahim di atas batu masih basah
Di bawah kedua telapak kakinya yang telanjang, tidak beralas

Batu ini masih tetap bisa disaksikan hingga saat ini. Anas bin Malik meriwayatkan, “Aku lihat di Maqam terdapat bekas jari jemari dan pijakan kedua telapak kakinya. Namun, lama-kelamaan terhapus oleh tangan-tangan orang yang menyentuhnya.”

Melalui sejumlah sanad shahih, Al-Azraqi mereiwayatkan bahwa dulu pada masa Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar, posisi Maqam Ibrahim berada di tempat yang sama seperti sekarang.

Kemudian ketika terjadi banjir di masa kekhalifahan Umar, batu tersebut terseret air hingga ke bagian bahwa kota Makkah. Maqam itu dibawa kembali ke Ka’bah dan diikatkan pada kiswah Ka’bah. Lalu, Umar menetapkan untuk meletakkannya di posisi semua.

Akhirnya, Maqam itu kembali seperti semula dan di sekelilingnya berdiri beberapa bangunan. Maqam Ibrahim merupakan jejak agung yang tetap dipelihara oleh Allah sepanjang masa, sejak zaman Ibrahim hingga sekarang.

Bahkan sebagian sejarawan pernah mengungkapkan bahwa tidak ada pada suatu umat pun selain umat Islam, suatu jejak yang senantiasa dijaga oleh Allah sepanjang masa, seperti Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim. Keduanya akan tetap terjaga dalam pemeliharaan Allah SWT untuk rumah-Nya yang suci sampai Hari Kiamat.

Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Atlas Haji & Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth