Sejarah Sumur Zam Zam (I)

15 February 2012 | Kategori: Tempat Bersejarah

Air yang terbaik di muka bumi ini adalah air zam-zam. Air zam-zam adalah air suci yang telah dinikmati oleh umat Islam di seluruh dunia. Kisah sumur zam-zam ini berawal sejak 4000 tahun yang lampau. Pada saat itu masih menjadi bagian dari gurun Sahara yang gersang dan tandus, bukti bahwa tempat tersebut tidak pernah dihuni. Lalu Ibrahim AS bersama istrinya Siti Hajar dan putranya Ismail datang dan bermukim di tempat ini untuk memenuhi perintah Allah SWT.

Pada suatu saat Ibrahim AS sedang pergi untuk beberapa lama, persediaan makanan dan minuman habis. Bahkan ASI dari Siti Hajar pun mengering. Hidup ibu dan anak laki-laki itu terancam haus dan lapar. Siti Hajar lalu berusaha mencari air dengan berlari-lari kecil dari bukit Safa ke bukit Marwah sambil memohon kepada Allah apa saja untuk putranya. Setelah 7 kali pergi-pulang, terjadilah keajaiban. Air memancar dari antara kedua kaki putranya dengan kehendak Allah yang memerintahkan malaikat Jibril. Dengan memukul bumi, maka terpancarlah air. Itulah air zam-zam.

Beberapa tahun kemudian, Ibrahim AS datang dan langsung bersujud kepada Allah. Ia lalu membangun, meninggikan kembali Baitullah dibantu anaknya Ismail dan menjadikan tempat tersebut sebagai tempat ibadah kepada Allah SWT.

Sumur zam-zam memberikan manfaat yang begitu besarnya bagi umaat manusia di dunia. Pertolongan Allah tiba dengan ditemukannya sumur zam-zam. Air yang membawa berkah, diminum penduduk Makkah dan peziarah haji. Pemeliharaan zam-zam menjadi tanggung jawab Abdul Muthalib. Penduduk di sekitar Makkah mengambil air zam-zam untuk kebutuhan mereka sehari-hari.

Seiring dengan waktu, banyak nama diberikan kepada sumur zam-zam. Nama lain dari sumur zam-zam seperti hentakan Jibril, minuman dari Allah, yang tidak tercela untuk Ismail, pembawa berkah, bermanfaat, berprasangka baik, menggembirakan, murni, membawa kebaikan, terjaga, menyelamatkan, yang mencukupi, bergizi, yang suci, mulia, penghibur, penyembut penyakit, makanan yang mengenyangkan, dan lain sebagainya. Pada saat Rasulullah SAW menaklukkan Makkah, tanggung jawab Abdul Muthalib kemudian dipegang oleh Rasulullah.