Shafa dan Marwa

3 November 2011 | Kategori: Tempat Bersejarah

Para jamaah haji tengah melaksanakan sa'i antara Bukit Shafa dan Marwa. Foto: Republika/Tommy Tamtomo

REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT berfirman, ” Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158).

Bukit Shafa dan Marwa terletak di sebelah timur Masjidil Haram. Keduanya termasuk syiar agama, di mana seluruh jamaah haji diharuskan mengerjakan sa’i sebanyak tujuh putaran, berdasarkan firman Allah di atas. Keduanya merupakan anak bukit yang terletak di tengah-tengah kota Makkah dan dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk Makkah, di antaranya Darul Arqam, Dar As-Saib bin Abu As-Saib Al-Aidzi, Dar Al-Khuld, dan lain-lain.

Bukit Shafa berada dalam satu rangkaian dengan Jabal Abu Qubais, sedangkan Bukit Marwa masih satu rangkaian dengan Jabal Qa’aiqa’an. Kedua gunung tersebut terkenal di Kota Makkah. Pengamalan sa’i merujuk pada masa Nabi Ibrahim.

Al-Qurthubi menyebutkan alasan lain tentang penamaan ini. Dia mengatakan di dalam tafsirnya, “Asal kata ‘Shafa’ secara etimologi berarti batu licin, yaitu nama sebuah bukit terkenal di Makkah. Marwa juga nama sebuah bukit. Disebut Shafa karena dulu Adam AS pernah berdiri di atasnya. Sementara Hawa berdiri di atas Marwa, sehingga dinamakan dengan nama perempuan. Wallahua’lam.

Shafa dan Marwa memiliki arti penting di dalam jiwa bangsa Arab. Keduanya pun memiliki kedudukan tinggi di dalam sejarah kaum Muslimin, bahkan dalam sejarah umat manusia seluruhnya. Keduanya termasuk peninggalan yang agung, tempat-tempat suci, dan kenangan bersejarah yang diabadikan oleh Islam di dalam kitab-Nya yang mulia.

Kaum Muslimin diwajibkan untuk melaksanakan sa’i di antara keduanya serta berhenti sejenak untuk mengenang Adam dan Hawa yang pernah berdiri di atasnya—sebagaimana disebutkan dalam sebagian khabar.

Selain itu, sa’i bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur terhadap nikmat Allah SWT yang dilimpahkan kepada Hajar dan putranya, Ismail, juga kepada umat manusia sesudah mereka. Nikmat berupa mata air Zamzam untuk Hajar seetelah dia berusaha mencari sumber air dengan berjalan bolak-balik antara Bukit Safah dan Marwa.

Di dalam Shahih Al-Bukhari terdapat sebuah riwayat Ibnu Abbas dengan status marfu’. Di sini disebutkan, Ibrahim meninggalkan Hajar bersama putranya, Ismail, yang masih menyusu di suatu tempat di Makkah. Dia hanya meninggalkan untuk mereka satu kantor kurma dan satu wadah tempat minum. Ketika air dalam kantong itu habis, Hajar dan putranya pun mulai merasa haus. Hajar memandangi putranya yang menggeliat kehausan.

Tak tega melihat anaknya dalam keadaan demikian, dia segera pergi dan mendapati Shafa, bukit terdekat. Dia pun menaikinya, lalu berdiri di atasnya. Kemudian dia memandang sekeliling, mungkin ada orang di sana. Ternyata dia tak melihat seorang pun. Lantas, dia menuruni Bukit Shafa dan menuju Bukit Marwa. Dia pun berdiri di Bukit Marwa dan melihat apakah ada seseorang. Di sana juga tidak terlihat seorang pun. Dia terus melakukan hal itu sebanyak tujuh kali. Ibnu Abbas meriwayatkan, Nabi bersabda, “Karena itulah, orang-orang melaksanakan sa’i di antara keduanya.”

Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Atlas Haji & Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth