Shalat di Masjid Jin

12 October 2012 | Kategori: Tempat Bersejarah

’Ternyata sama saja seperti masjid lainnya, tempat shalat,’’ itulah komentar Mappaewa, jamaah calon haji dari Kloter 1 Makassar, seusai mengunjungi Masjid Jin.  Masjid ini memang  tak sehebat  kisahnya.

Masjid Jin terletak di Jalan Sulaimaniyah, Makkah. Bangunannya seperti masjid biasa pada umumnya. Dari sisi arsitektur pun tak ada yang spesial. Masjid ini, diapit oleh gedung-gedung besar. Posisinya tepat di pinggir jalan raya.

‘’Hari ini, kami bersebelas memutuskan untuk tak shalat di Masjidil Haram, tapi di Masjid Jin ini,’’ kata Mappaewa. Ia sangat penasaran untuk mengunjungi masjid itu karena membaca kisahnya lewat buku sejarah.

‘’Saya pernah mendengar masjid ini pernah akan dibongkar dan ditolak para jin,’’ tutur Mappaewa.  Ia mengaku tak melihat ada sesuatu yang aneh di Masjid Jin. ‘’Saya juga pernah shalat Subuh di sini.’’

Masjid ini letaknya dekat dengan pemondokan jamaah haji Indonesia, sektor 4.  ‘’Kami ke sini jalan kaki, jaraknya hanya 400 meter dari pemondokan.’’ Tak hanya jamaah calon haji Indonesia yang shalat dan berkunjung ke Masjid Jin.

Siang itu, jamaah haji dari Bangladesh, India, serta Pakistan juga berbondong-bondong shalat di Masjid Jin. Masjid yang bermenara satu ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama untuk tempat shalat jamaah pria.

Jamaah wanita disediakan tempat shalat di lantai dua yang luasnya hanya sepertiga lantai pertama. Masjid Jin hanya mampu menampung sekitar 150 jamaah.  Masjid Jin terletak di Kampung Jin.  ‘’Di kampung ini banyak tinggal orang-orang yang berasal dari Indonesia,’’ ungkap Zaini, seorang mukimin.

Sehabis shalat Dzuhur,  seorang pria bangkit sambil menggendong anaknya yang menderita polio. Pria itu  berpidato yang isinya meminta bantuan untuk membiayai anaknya.  Ia lalu  berdiri di depan pintu keluar dan jamaah pun memberinya lembaran riyal sebagai sedekah.

Lantas apa yang spesial dari Masjid Jin?  Tentu saja sejarahnya. Masjid Jin merupakan salah satu tempat bersejarah di Tanah Suci, Makkah.  Jin seperti halnya manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT untuk beribadah.

‘’Tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat [51]: 56).  Sama seperti manusia, jin pun terbagi dua; Muslim dan kafir.  Alquran menerangkan tentang adanya jin yang menyatakan keislamannya.

“Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin mendengarkan Alquran. Lalu, mereka berkata, `Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Karena itu, kami memercayainya dan kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan siapa pun juga.” (QS  Jin [72] ayat 1-2).

Menurut catatan sejarah, suatu hari Rasul SAW bersama para sahabat sedang melaksanakan shalat Subuh. Ketika itu, Rasul SAW membaca surah Ar-Rahman [55] ayat 1-78. Dalam surah Ar-Rahman ini terdapat beberapa ayat yang berbunyi, “Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Saat ayat itu dibacakan,  para jin yang hadir saat itu langsung menjawab, ’’Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun. Segala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan batin kepada kami.”

Ibnu Mas’ud mengaku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘’Aku didatangi juru dakwah dari kalangan jin. Lalu, kami pergi bersamanya, dan aku bacakan Alquran kepada mereka.”

Masjid  Jin merupakan saksi keimanan para jin tehadap kerasulan Nabi Muhammad SAW. Alkisah, para Jin berencana menuju Tihamah. Mereka lalu mendengar lantunan ayat suci Alquran. Para jin itu takjub saat mendengarkan lantunan Alquran.

Saat itulah, para jin kemudian berdialog dengan Rasulullah SAW. Mereka kemudian menyatakan keimanannya. Mereka kemudian menyampaikan hal itu kepada kaum jin.  Para jin lalu berbaiat dengan Rasul SAW. Peristiwa itu  diabadikan dalam Alquran surah Al-Ahqaf [46]: 29-32.

Subhanallah, meski secara arsitektur tak ada yang istimewa dari Masjid Jin ini, ternyata nilai sejarahnya begitu luar biasa.

Satu lagi, tempat bersejarah yang dulu diajarkan di bangku sekolah akhirnya bisa saya kunjungi di Tanah Suci ini. Alhamdulillah…

heri ruslan