Hadis-Hadis tentang Keutamaan Multazam (4-habis)

6 June 2012 | Kategori: Tempat Ibadah

Sejumlah umat Muslim menyentuh Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Foto: Antara.

REPUBLIKA.CO.ID – Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi SAW pernah mendengar seorang pria berdoa di antara rukun dan pintu, “Ya Allah, ampunilah Fulan bin Fulan.”

Lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Dia lalu menjawab, “Seseorang telah menugaskan aku untuk mendoakannya di tempat ini.” Kemudian beliau bersabda, “Sungguh kawanmu itu telah diampuni.” (Al-Fakihy: 1/177).

Said bin Jubair mengatakan bahwa sebuah doa yang dahulu tidak pernah ditinggalkan oleh Ibnu Abbas di antara rukun dan maqam adalah doa, “Ya Allah, puaskanlah aku dengan rezeki yang telah Engkau berikan kepadaku dan berkahilah aku di dalamnya, serta peliharalah kebaikan keluargaku yang aku tinggalkan.” (Al-Fakihy: 1/177).

Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Jibril AS mengamini (doa)-ku pada pintu Ka’bah sebanyak dua kali.” (Al-Fakihy: 1/179).

Seorang Quraisy mendengar Saib bertanya, “Di manakah engkau melihat Rasulullah SAW melakukan shalat?” Lalu dia ditunjukkan ke hadapan Ka’bah, dekat rukun (sudut) yang di sebelah kiri, yang termasuk di dalamnya Hijr Ismail, kira-kira empat atau lima hasta. (Al-Fakihy: 1/181).

Sebagian orang Makkah mengatakan bahwa tempat Rasulullah melakukan shalat di hadapan Ka’bah sebelum beliau melakukan shalat di atas dua buah batu (bata dan marmer) di bawah kain Ka’bah, adalah batu ketujuh dari pintu Hijr Ismail bagian timur. Batu ketujuh itu digunakan sebagai tempat shalat karena paling panjang di antara tujuh batu yang ada. Di atas batu itu terdapat tanda seperti cekungan atau semacam lubang, itulah tempatnya.

Mereka juga pernah melihatnya pada tahun 164 H ketika bata dan marmer itu dilepaskan dari Syadzirwan. Mereka melihat di balik kiswah yang terangkat dari Ka’bah itu, sebuah bekas yang telah rapuh, yang mana persis di tempat itu dibuatkan sebuah tanda untuk tempat ini.

Sebagian orang menduga bahwa tempat itu adalah yang dibuat oleh Umar bin Khathab RA sebagai maqam manakala dia hilang terbawa arus banjir. (Al-Fakihy: 1/183).

Ali RA berkata, “Seandainya seseorang bangun malam dan berpuasa di siang hari, serta menyembelih (hewan) di antara rukun dan maqam, niscaya dia tidak akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak kecuali bersama dengan orang yang disukainya berapa pun kadarnya. Jika surga, maka surgalah, dan jika neraka, maka nerakalah.” (Al-Fakihy: 1/470).

Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Wahai Bani Abdil Muththalib, sesungguhnya aku telah meminta kepada Allah Azza Wa Jalla untuk kamu sekalian sebanyak tiga hal; agar Dia menetapkan orang yang bangun (shalat) di antara kamu, agar Dia menunjuki orang yang sesat di antara kamu, dan agar Dia mengajari orang yang bodoh di antara kamu.”

“Di samping itu, aku juga telah meminta kepada-Nya agar menjadikan kamu sekalian sebagai orang-orang yang dermawan, gemar menolong, dan penuh kasih sayang. Dan seandainya ada seseorang yang berdiri tegak di antara rukun dan maqam, melakukan shalat dan puasa, kemudian menemui Allah SWT sementara dia menyimpan kebencian terhadap anggota keluarga Muhammad (Ahlul Bait), maka dia akan masuk neraka.” (Al-Fakihy: 1/471).

Aisyah RA menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda kepadanya, “Manakah tempat yang paling baik?” Aisyah menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Ya Rasulullah, sepertinya engkau menghendaki antara rukun dan maqam?”

Beliau bersabda, “Engkau benar, sesungguhnya tempat yang paling baik, paling suci, paling bersih, dan paling dekat bagi Allah adalah apa yang berada di antara rukun dan maqam, di mana di antara rukun dan maqam itu terdapat sebuah taman di antara taman-taman surga.” (Al-Fakihy: 1/471).

Maka barangsiapa yang melakukan shalat empat rakaat di tempat itu, akan diserukan dari arah Arsy, “Wahai hamba, telah diampuni dosa-dosamu yang telah lewat, maka mulailah beramal.” (Al-Fakihy: 1/476).

Redaktur:  Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Menguak Misteri Tempat-tempat Suci, Keutamaan Kota Makkah, oleh Atiq bin Ghaits Al-Biladi