Haramkah Memotret di Masjidil Haram?

9 May 2012 | Kategori: Tempat Ibadah

Jamaah haji Indonesia saat istirahat di pelataran Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Foto: Republika/M Subarkah.

REPUBLIKA.CO.ID – Kenangan semasa di Tanah Suci tentu merupakan masa-masa indah yang ingin diabadikan. Betapa bangganya seorang yang pulang dari Tanah Suci memamerkan foto-fotonya di samping Ka’bah.

Tentunya kembali kepada niat masing-masing jamaah. Apakah berfoto tersebut untuk pamer atau untuk bermuhasabah mengingatkan kerinduannya sewaktu di Baitullah.

Namun, petugas dan penjaga Masjidil Haram ternyata tidak membolehkan aksi jeprat-jepret para jamaah. Bahkan kadang kala bawwab (penjaga pintu Masjidil Haram) kerap mengadakan razia. Mereka memeriksa bawaan jamaah ke dalam masjid. Jika mereka menemukan kamera, tentu tidak akan diperbolehkan masuk.

Menggapa di dalam Masjidil Haram tidak diperbolehkan berfoto? Larangan tersebut sebenarnya berawal dari pemahaman manhaj salafi yang mengharamkan segala jenis foto dan gambar. Arab Saudi sendiri adalah pusat dan sumber pemahaman salafi di seluruh dunia.

Dalam manhaj salafi pengharaman foto dan gambar, landasan hukumnya berpijak pada hadis dari Ibnu Mas’ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling keras disiksa di hari Kiamat adalah para tukang gambar (mereka yang meniru ciptaan Allah).” (HR. Bukhari-Muslim).

Walau pengikut manhaj salafi tetap bersikukuh dengan pengharaman segala jenis foto. Nyatanya kebanyakan ulama berpendapat bahwa pengharaman dalam hadis tersebut hanya untuk patung dan lukisan saja. Sementara foto dan video tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Sebenarnya alasan yang lebih kuat dalam pelarangan foto oleh petugas Masjidil Haram di dalam kawasan masjid untuk kekhusyukan jamaah beribadah. orang yang berfoto ria didalam masjid tentu tidak akan tenang dan akan mengganggu jamaah lain yang ingin beribadah.

Bagi yang ingin berfoto di dalam Masjidil Haram, silakan saja. Namun, disarankan untuk menggunakan kamera pocket atau dari kamera ponsel saja. Perlu juga diperhatikan untuk tidak larut dan sibuk dengan berfoto-foto. Apalagi sampai mengganggu orang sekitar yang beribadah. Kita kembali kepada niat awal ke Tanah Suci yaitu untuk beribadah, bukan untuk berfoto ria. Wallahua’lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra