Hukum Melintas di Depan Orang yang Shalat di Masjidil Haram

2 May 2012 | Kategori: Tempat Ibadah

Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi. Foto: Dok Republika.

REPUBLIKA.CO.ID – Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa andaikata seorang yang melintas di depan orang yang sedang melakukan shalat itu tahu apa yang akan menimpanya, maka akan lebih baik baginya untuk berdiri selama empat puluh tahun daripada dia harus melintas di depan orang yang sedang shalat.

Namun, ternyata hadist tersebut tidak berlaku di Masjidil Haram. Inilah salah satu dari sekian banyak keistimewaan Masjidil Haram dibanding masjid-masjid lain dimuka bumi.

Kepadatan dan banyaknya jamaah yang memadati Masjidil Haram, dirasa pantas jika masjid ini mendapat suatu keistimewaan. Sebahagian jamaah yang shalat dan sebahagian lain berthawaf, maka melintas di depan orang yang sedang shalat tentu tidak bisa terhindarkan lagi.

Dr Abdullah bin Abdul Aziz Al-Jabarain telah menulis sebuah buku kecil dengan judul tersebut. Dalam buku kecil ini beliau menguraikan pendapat ulama dan dalil-dalil mereka dalam masalah melintas di depan orang yang sedang shalat di dalam Masjidil Haram.

Dalam buku tersebut ada beberapa poin kesimpulan dari beberapa pendapat ulama tersebut dan pendapat terkuat menurut buku ini.

  1. Boleh melintas dari depan batasan orang yang sedang shalat.
  2. Boleh melintas di depan para makmum.
  3. Boleh melintas bagi orang yang sedang thawaf di depan orang yang shalat di pinggiran tempat thawaf.
  4. Boleh melintas di depan orang yang shalat di depan tempat sujudnya atau dengan jarak sekitar satu seperempat meter saat dia berdiri.
  5. Boleh melintas di depan orang yang sedang shalat jika dia melakukan shalat di jalan-jalan Masjdil Haram dan pintu- pintu masuk. Sebab, saat itu tidak ada keharaman baginya karena dia telah melakukan kekeliruan dengan shalat di tempat-tempat itu.
  6. Tidak boleh melintas di depan imam yang terpisah sendirian di depan tempat sujudnya, kecuali ada kebutuhan yang sangat mendesak. Ini karena tidak adanya dalil yang kuat yang menunjukkan adanya perkecualian Masjidil Haram dari keumumam larangan yang tertera di dalam hadits.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Dari berbagai sumber