Masjid Dua Kiblat

5 November 2009 | Kategori: Tempat Ibadah

qiblatainDi dekat sebuah bukit kecil, di kawasan utara Harrah Wabrah, Madinah, terdapat sebuah masjid nan elok. Bercat putih dengan dua menara menjulang ke langit, masjid yang mempunyai dua kubah tersebut bernama Masjid Qiblatain. Qiblatain artinya dua kiblat.

Sebelum bernama Masjid Qiblatain, masjid yang terletak sekitar 7 kilometer dari Masjib Nabawi tersebut bernama Masjid Bani Salamah. Semula, di dekat Masjid Bani Salamah ada telaga yang diberi nama Sumur Raumah. Sumur itu adalah sumber air terdekat dengan masjid yang dimiliki orang Yahudi.

Mengingat pentingnya air untuk masjid, atas anjuran Rasulullah SAW, Khalifah Usman bin Affan menebus telaga sumur orang Yahudi itu seharga 20 ribu dirham. Usman pun kemudian mewakafkan sumur untuk kepentingan masjid. Sumur itu sampai kini masih berfungsi dengan baik. Airnya digunakan untuk bersuci dan mengairi taman di sekeliling masjid serta kebutuhan minum penduduk sekitar. Namun, sekarang, bentuk fisik sumur sudah tidak kelihatan karena ditutup dengan tembok.

Perubahan nama masjid bermula pada peristiwa penting yang dialami Rasulullah SAW serta para sahabat. Saat itu, bulan Rajab tahun 12 Hijriyah. Rasulullah dan para sahabat tengah menunaikan shalat berjamaah siang hari. Sebagian hadis meriwayatkan, shalat jamaah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat adalah shalat Zuhur. Tapi, sebagian hadis ada yang menerangkan bahwa shalat itu adalah shalat Ashar berjamaah.

Kala itu, kiblat shalat masih menghadap ke arah Masjidil Aqsa di Palestina. Di tengah shalat berlangsung pada rakaat ketiga, Rasulullah SAW menerima wahyu yang memerintahkan kiblat shalat diubah ke arah Masjidil Haram di Makkah.

“Sungguh, Kami melihat mukamu menengadah ke langit. Maka, sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan, di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan, sesungguhnya, orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS Albaqarah ayat 144).

Seketika itu pula, Rasulullah yang sedang mengimami shalat mengubah kiblat ke arah Ka””bah. Tanpa membatalkan atau mengulangi shalat, Rasulullah berputar 180 derajat, dari semula ke arah Masjidil Aqsa kemudian menghadap ke arah Masjidil Haram. Para sahabat mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Peristiwa perubahan kiblat inilah yang melatarbelakangi pemberiaan nama Masjid Qiblatain pada Masjid Bani Salamah.

Di zaman Nabi SAW, peristiwa perpindahan kiblat ini mengundang kritik dan celaan kaum kafir. Namun, bagi mereka yang beriman, perpindahan kiblat tidak lantas membuat mereka ragu terhadap Allah SWT dan Muhammad SAW. Mereka justru bertambah keimanannya lantaran wahyu yang turun di Masjid Salamah itu memang telah lama diharapkan kaum Muslim.

Perubahan kiblat shalat juga memengaruhi cara shalat di Masjid Nabawi. Sebelum perubahan kiblat, Nabi Muhammad SAW biasa memimpin shalat dalam Masjid Nabawi dari suatu tempat di seberang Babul Jibriil yang dahulu menghadap ke arah utara. Setelah perintah untuk perubahan kiblat, beliau memimpin shalat dari pilar/tiang Aisyah untuk beberapa hari dan kemudian seterusnya memimpin shalat dari Mihrab Nabawi. Dengan perubahan kiblat, beliau menghadapi ke arah selatan (Baitullah).

Area di seberang Babul Jibriil yang lama kini menjadi bagian belakang Masjid Nabawi. Area ini diperuntukkan bagi Ashabus-Suffah menginap dan belajar.

Dalam perkembangannya, Masjid Qiblatain mengalami beberapa kali pemugaran, sejak zaman Umayyah, Abbasiyah, Usmani, hingga era pemerintahan Kerajaan Arab Saudi sekarang. Pada pemugaran-pemugaran terdahulu, tanda kiblat pertama masih jelas kelihatan. Pada dinding di arah kiblat pertama, tertera bunyi ayat 144 surah Albaqarah. Ada pula tulisan berupa larangan bagi siapa saja yang shalat agar tidak menggunakan kiblat lama.

Di saat musim haji, Masjid Qiblatain merupakan salah satu primadona lokasi yang masuk ke dalam menu ziarah para jamaah. Tak terkecuali jamaah haji asal Indonesia.

Meskipun Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tidak memasukkan Masjid Qiblatain dalam daftar masjid yang wajib dikunjungi dalam rangkaian ibadah di Tanah Suci Madinah, masjid dengan dua kiblat ini tidak pernah sepi dari kunjungan jamaah haji.

Berziarah ke Masjid Qiblatain mengandung banyak hikmah. Selain ibadah shalat wajib dan sunat di sana, jamaah dapat juga memetik suri teladan (ibrah) dari para pejuang Islam periode awal (as-sabiqunal awwalun) yang begitu gigih menyebarkan risalah Islamiyah dan melaksanakan perintah Allah SWT.

Biasanya, jamaah mengunjungi Masjid Qiblatain sambil menunggu datangnya puncak pelaksanaan ibadah haji.n Ismail ed: m as””adi/yto