Pembangunan Kabah dan Kelahiran Ishak

2 March 2012 | Kategori: Tempat Ibadah

oleh: Devi Anggraini Oktavika

Kabah, sempat terkubur dan posisinya samar. Nabi Ibrahim lah yang kemudian meninggikan fondasi kabah hingga seperti sekarang ini.Al-Azraqi seperti dikutip dalam Atlas Sejarah Nabi dan Rasul (2007) menyebutkan, “Posisi Ka’bah telah samar dan terkubur pada masa banjir besar.” Posisi Baitullah menurut Al-Azraqi hanya ditandai sebuah gundukan atau bukit kecil berwarna merah yang tidak terjangkau air atau banjir. Orang-orang pada saat itu hanya tahu bahwa ada sebuah tempat yang bernilai di sana, tanpa bisa memastikan posisinya.

Nabi Ibrahim lah yang kemudian diperintahkan Allah untuk meninggikan fondasi Ka’bah, bangunan yang jauh sebelumnya telah dibangun Nabi Adam. Perintah tersebut datang pada masa di mana Ibrahim selalu pulang pergi Hebron-Makkah untuk menjenguk anak dan istrinya, Hajar dan Ismail.

Ketika perintah itu datang, Ibrahim datang ke Makkah dan menyaksikan Ismail sedang meruncingkan tombak di dekat zamzam. Mereka bersalaman dan berpelukan satu sama lain, dan Ibrahim segera menyampaikan perintah Allah yang diterimanya. Hal itu dijawab Ismail dengan berkata, “Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu dan aku akan membantumu dalam tugas yang agung ini.”

Mulailah Ibrahim membangun Ka’bah dengan dibantu Ismail sekitar tahun 1892 SM. Ketika bangunan sudah semakin tinggi, Ibrahim yang telah tua itu tak berdaya mengangkat batu ke atasnya sehingga ia harus berdiri di atas sebuah batu, yakni maqam Ibrahim, hingga ia menyelesaikan bangunan tersebut.

Setelah itu, Allah memerintahkan kepada Ibrahim agar menyeru kepada manusia untuk  mengerjakan ibadah haji. Perintah tersebut termaktub dalam surah Al-Hajj ayat 27-29. Allah SWT berfirman, “Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Yakub, dan kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya (QS. Al-‘Ankabut: 27).

Ishak as tumbuh besar di kawasan al-Khalil (Hebron) di bumi Kan’an dan Allah SWT mengutusnya pada bangsa Kan’an. Ia melanjutkan seruan dan dakwah ayahnya, yakni seruan untuk mengesakan Tuhan dan meninggalkan apa yang mereka sembah, selain Allah SWT. Darinya, kemudian lahir Yakub pada 1837 SM.
Yakub hijrah dari Kan’an ke tempat paman dari ibunya, Laban, yakni sebuah daerah di utara wilayah Furat dari padang Aram (Harran). Ia menetap di sana dalam waktu yang cukup lama. Di sana, ia memperistri putri pamannya dan kembali ke Kan’an setelah Allah menganugerahinya sepuluh orang anak.

Setelah berada di Kan’an, Allah kembali menganugerahinya dua orang putra, yakni Yusuf (diperkirakan lahir pada 1745 SM) dan Benyamin. Di Kan’an inilah Nabi Yakub as menyempurnakan risalah ayahnya (Ishak as) dan kakeknya (Ibrahim as) dalam dakwah dan seruan pada ketauhidan Allah SWT. Dan ketika Allah memberi putranya, Yusuf as, gelar kenabian dan jabatan menteri keuangan pada masa Hesos, Yakub dan anak-anaknya berangkat menemui Yusuf di Mesir.